Elmu Panemu Jampe Pamake

Dasar dari tali paranti spt bikin sesajen, nyuguh dan ritual-ritual adat lainnya yg sering dilakukan para orang tua itu ada dua : Pengetahuan dan Bukti.

Pengetahuan didapat dari pengalaman dan pemikiran hidup sehari hari, sedangkan bukti didapat dari hasil kongkret yg didapatnya.

Pengetahuan masyarakat dahulu susah dimengerti dg perspektif kekinian, oleh sebab itu orang sekarang daripada pusing2 memikirkan tentang kosmos masa lalu lebih baik langsung beri penghakiman : itu musrik itu kafir itu kebodohan. Kita lebih senang membangun narasi berdasarkan emosi daripada logika pengetahuan.

Tapi kita juga harus hati-hati. Karena ada message leluhur bahwa, demi eksistensi dan kehormatan banyak juga orang yg sengaja bikin-bikin Tali Paranti buatannya sendiri tanpa dasar pengetahuan Buhun sehingga berpotensi menyesatkan orang lain dan merusak budaya itu sendiri.

Saya kira apa yg disampaikan Jefrey Lang dalam bukunya yg berjudul bahkan malaikat saja bertanya, ada benarnya, Kita perlu membangun kritisisme dalam beragama. Tapi kita juga harus tahu bahwa budaya yg diwariskan para orang tua spt misalnya Adat Buhun, hendaknya dibangun dg kerangka ngelmu/ pengetahuan, dan bukan sekadar ikut-ikutan yg berpotensi menyesatkan iman. dan membekukan akal.

Konfigurasi katanya : dahulukan dahulu pengetahuan (elmu) yg di dpt dari belajar dan pengalaman (panemu), setelah itu barulah ritualisasi (jampe) penerapan ( pamake).

Sayangnya, tradisi pewarisan keilmuan Buhun Sunda sekarang ini sudah tak ada lagi dan kitapun tidak tahu lagi, kemana, dimana, pada siapa, Orang Sunda belajar Sunda. Sebaliknya kita lebih cakap memusuhi, merusak dan menenggelamkan sesama Sunda.

Leave a Comment