Dalam banyak tradisi besar dunia, dikenal figur “pahlawan akhir zaman” yang hadir sebagai pembaru sekaligus penegak keseimbangan spiritual. Dalam Hindu dikenal Kalki Avatar, dalam Buddha hadir Maitreya, dalam tradisi Yahudi ada Messiah, Kristen mengenal Juru Selamat, dan Islam meyakini Imam Mahdi. Bahkan dalam tradisi yang lebih khusus, muncul nama-nama seperti Shah Bahram, Khriss, hingga gerakan Shabbatean. Fenomena ini menunjukkan adanya pola universal dalam kesadaran spiritual manusia: harapan akan hadirnya sosok pembaharu di masa krisis.
Dalam khazanah Sunda, narasi serupa hadir melalui figur Budak Angon, yang dalam tradisi pantun diposisikan sebagai pahlawan akhir zaman bagi masyarakat Sunda. Kehadiran konsep ini menegaskan bahwa Sunda bukan sekadar identitas etnis atau wilayah geografis, melainkan juga mengandung dimensi ageuman—yakni keyakinan spiritual yang hidup dan diwariskan. Menariknya, sejumlah nilai dalam spiritualitas Sunda menunjukkan kemiripan dengan tradisi samawi atau monoteistik, terutama dalam penekanan pada keseimbangan, moralitas, dan hubungan manusia dengan Yang Maha Tunggal.
Namun dalam perjalanan sejarah, muncul narasi tandingan yang menyederhanakan bahkan mendistorsikan warisan leluhur Sunda. Melalui berbagai pengaruh, leluhur Sunda kerap dilabeli sebagai penyembah dewa atau penganut kepercayaan yang dianggap “tidak murni”. Narasi ini, sebagaimana tersirat dalam tradisi lisan, justru dipopulerkan oleh pihak luar yang tidak sepenuhnya memahami konteks spiritual Sunda. Akibatnya, generasi Sunda masa kini—yang mayoritas Muslim—sering kali bersikap apriori terhadap budayanya sendiri, seolah budaya dan agama berada pada dua kutub yang berlawanan.
Kondisi ini melahirkan kegamangan identitas: ka adat teu napak, ka sara teu nepi. Tidak sepenuhnya membumi dalam budaya, namun juga tidak mendalami agama secara utuh. Ketika jarak antara budaya dan religi semakin melebar, keduanya menjadi rentan untuk dibenturkan. Padahal, jika ditelusuri dengan jernih, budaya dan agama tidak harus saling meniadakan. Justru dalam titik temu keduanya, terdapat peluang untuk merawat jati diri sekaligus memperdalam spiritualitas secara lebih utuh dan berakar.
