Hilangnya Sungai-Sungai Karawang

sungai karawang

Kearifan lokal bukan hanya tergerus di pusat-pusat kota, tetapi juga semakin menguap di pilemburan. Salah satu indikasinya adalah semakin hilangnya keberadaan sungai-sungai alam atau Sanghyang Patanjala di berbagai desa di Karawang.

Contohnya, Sungai Cikawung yang menyisir Kecamatan Jatisari dan Banyusari, yang pada tahun 1980-an lebarnya masih 6–8 meter, kini tinggal 6–8 jengkal. Begitu juga Kali Buaya, Cibojongmanggu, Cisubah, Cikancah Nangkub, Kali Gobang, Citapen, Kali Areng, dan sungai-sungai alam lainnya di seantero Karawang.

Suatu hari nanti, sungai-sungai itu mungkin hanya tinggal comberan, lalu hilang seperti nasib Kali Derwak Timur, Ci Pasanggrahan, Cipangulah, Kali Grunggung, Kali Cibadak, Kali Macan, Ci Guha, Kali Candi, dan puluhan sungai-sungai kecil lainnya yang bertebaran di Karawang.

Dengan berkurangnya jalur sanitasi seperti itu, maka desa-desa juga bisa terancam banjir. Beberapa sungai memang ada yang dibangun ulang menjadi irigasi, tetapi faktanya 80% irigasi yang ada di Karawang sekarang ini juga dalam kondisi rusak, dan semuanya merupakan bangunan lama yang dibuat pada awal tahun 1980-an. Sisanya banyak yang tergerus oleh pemukiman dan pabrik.

Karawang adalah lumbung padi, dan populasi penduduknya juga terus bertambah. Hal ini tentu membutuhkan suplai air yang besar serta tata kelola air yang baik untuk menghindari bencana.

Hilangnya atau semakin mengecilnya sungai-sungai tersebut menunjukkan bahwa kearifan lokal (Patanjala Sunda) belum menjadi bagian penting dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kabupaten, terutama di tingkat desa.

Kalau pabrik-pabrik saja membutuhkan Citarum dan Cibeet untuk membuang limbahnya, lalu ke mana larinya air dari puluhan ribu selokan dan pipa pembuangan dari rumah-rumah penduduk jika sungai-sungainya menghilang dari lembur-lembur kita?

Similar Posts