Epilog Budaya dan Budayawan

Sekilas proses peradaban. Orang hidup. Mereka perlu makan. Proses pencarian makan berbeda-beda setiap fase waktunya. Diawali dari berburu, mengumpulkan, meramu, cocok tanam dan industri.

Kita ambil dari cocok tanam atau pertanian.

Orang mencari lokasi yang tepat untuk dijadikan areal bertani. Itu pengetahuan. Ada proses analisa dan rangkaian berpikir yang rumit. Itu bagian dari budaya.

Bagaimana masyarakat Karawang menganalisa lingkungannya hingga terpeta-petakan sawah dimana dan kampung dimana.

Setelah melewati proses analisa lingkungan kemudian berlanjut pada prose pengetahuan tentang tetumbuhan dan musim. Tumbuhan atau pohon apa yang bisa di tanam di suatu tempat. Dan mana pohon yang tidak bisa tumbuh di sana. Apa saja kegunaan pohon tersebut, juga pohon dan tumbuhan lainnya. Bagaimana pengaruh musim, sistem pengairan dan proses pemanfaatannya. Itu pengetahuan. Itu juga budaya.

Berlanjut pada proses makan hasil cocok tanam-nya. Bisa diolah jadi apa, dan bagaimana prosesnya. Itu pengetahuan. Itu budaya. Sekarang kita menyebutnya kuliner. Ada wawasan yang luas tentang bumbu dan racikan.

Itu baru makanan. Kita bergeser ke yang lain. Misal tempat tinggal. Pakaian. Bahasa. Hubungan dengan alam. Dengan kekuatan alam. Dan bahkan tentang cara berekspresi yang kemudian melahirkan nyanyian dan tarian. Setiap obyek memiliki detailitas dan kerumitan.

Peradaban itu luas. Banyak mengandung pengetahuan yang berbeda-beda. Kemudian menjadi budaya yang diwariskan turun temurun.

Bagaimana sistem pewarisannya?

Dominannya melalu lisan, sehingga lahirlah istilah Tradisi Lisan dan Cerita Rakyat. Beberapa tradisi lisan yang kebenarannya susah dipahami logika kita sebut mitos atau dongeng. Jika mitos itu berkaitan dengan sebuah tempat Orang Sunda menyebutnya Sasakala.

Budaya itu lebih susah dipahami. Mungkin itu sebabnya budayawan itu sedikit. Banyaknya seniman. Karena seniman lebih fokus pada satu hal spesifik : seni. Bisa seni rupa, seni tari atau lainnya. Sedangkan budaya? Seluas sejarah kehidupan manusia itu sendiri.

Sekarang ini kita memerlukan lebih banyak budayawan. Yaitu mereka yang bisa dan memahami kehidupan. Bukan dalam arti filosofis. Tapi fragmen per fragmen. Dalam konsepsi global. Keseluruhan sehingga dia bisa menangkap pesan-pesan semesta-nya. Rinciannya itu urusannya tukang. Misal bangunan, itu arsitektur dan tukang bangunan. Soal pakaian, itu pangeuyeuk atau orang texstil. Bisa juga desainer.

Seorang budayawan, dia memahami dan mengenali semuanya. Dia memang tidak semahir dan seterampil tukang, seniman atau ahli praktik lainnya. Tapi memang itulah fungsi budayawan. Merangkul semuanya. Kalau pemahamannya terbatas dia berarti seorang seniman atau praktisi.

Tidak mudah mengidentifikasi budayawan. Seorang seniman bisa dikenali dari pola ekspresi dan hasil produknya. Tapi budayawan? Dia adalah Semar diantara para Pandawa dan Kurawa. Hanya diketahui dari kebijaksanaannya.

Dan luasnya pemahamannya tentang hidup dan kehidupan.
Menjadi budayawan adalah sebuah proses. Tahapan dari pemahaman atas setiap proses dan fragmen kehidupan. Budayawan bukan orang bijak.

Seorang budayawan juga bukan berarti orang tahu segala. Dia hanya orang yang memahami semuanya lebih luas, dalam dan jernih dari kebanyakan orang. Budayawan lebih menyerupai seorang filosof. Tapi bukan filosof dari dialektika material, melainkan lebih ke supra-struktur.

Seorang budayawan bisa dikenali dari jawabannya atas pertanyaan-pertanyaan kolektif sebuah masyarakat. Karena seorang budayawan dalam persfektif masyarakat timur, adalah pantulan cermin kehidupan.

Leave a Comment