Pada 13 November 2018, budayawan Sunda Asep R. Sundapura mengadakan sebuah pertemuan bersama mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) serta para penggiat literasi di Karawang. Pertemuan tersebut menjadi ruang diskusi yang hangat dan reflektif, dengan fokus utama pada perkembangan tradisi lisan di wilayah Karawang yang kian menghadapi tantangan zaman.
Dalam suasana yang berlangsung sederhana namun sarat makna, Asep R. Sundapura mengangkat pentingnya menjaga keberlangsungan tradisi lisan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Karawang. Ia menekankan bahwa tradisi lisan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan juga sumber nilai, pengetahuan lokal, serta cara pandang masyarakat terhadap kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi lisan di Karawang sendiri mencakup berbagai bentuk, mulai dari carita pantun, wawacan, dongeng rakyat, hingga ungkapan-ungkapan lokal yang hidup dalam keseharian masyarakat. Namun demikian, modernisasi dan perubahan pola komunikasi dinilai telah menggeser peran tradisi ini, terutama di kalangan generasi muda yang lebih akrab dengan budaya digital.
Dalam diskusi tersebut, para mahasiswa Unsika turut menyampaikan pandangan dan kegelisahan mereka terhadap kondisi ini. Mereka melihat adanya jarak yang semakin lebar antara generasi muda dengan akar budaya lokal. Oleh karena itu, diperlukan upaya kreatif untuk mengemas kembali tradisi lisan agar tetap relevan, tanpa kehilangan esensi nilai yang dikandungnya.
Para penggiat literasi yang hadir juga menyoroti pentingnya dokumentasi dan pengarsipan tradisi lisan. Menurut mereka, banyak kekayaan budaya Karawang yang belum terdokumentasikan dengan baik, sehingga berisiko hilang seiring berjalannya waktu. Digitalisasi, penulisan ulang dalam bentuk buku, hingga pengembangan media kreatif berbasis cerita rakyat menjadi beberapa solusi yang diusulkan dalam forum tersebut.
Asep R. Sundapura dalam pemaparannya juga mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengenang, tetapi harus dihidupkan dalam praktik keseharian. Ia mendorong mahasiswa sebagai generasi terdidik untuk mengambil peran aktif, baik melalui penelitian, kegiatan seni, maupun gerakan literasi berbasis budaya lokal.
Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya tradisi lisan sebagai fondasi kebudayaan daerah. Di tengah arus globalisasi, Karawang dihadapkan pada pilihan antara melupakan atau merawat warisan budayanya. Diskusi tersebut setidaknya menunjukkan bahwa masih ada kepedulian dan harapan untuk menjaga agar suara masa lalu tetap bergema dalam kehidupan masa kini.
Dengan adanya sinergi antara akademisi, budayawan, dan komunitas literasi, diharapkan tradisi lisan Karawang tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai sumber inspirasi bagi generasi mendatang. Rahayu budaya, rahayu Karawang.
