Di tengah arus sastra populer yang sering kali terjebak pada cerita-cerita ringan, kehadiran buku Satria Kabuyutan karya Asep R. Sundapura menjadi angin segar—sebuah karya yang tidak hanya bercerita, tetapi juga mengajak pembaca merenung tentang akar budaya dan jati diri.
Satria Kabuyutan benar-benar sebuah novel canggih hasil karya anak muda asli urang Karawang. Ia menunjukkan bahwa dari daerah yang sering dipandang sebagai kawasan industri, lahir karya sastra yang mampu menembus dimensi sejarah, spiritualitas, dan identitas.
Jika tetralogi Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer diibaratkan seperti film Titanic—megah, realistis, dan membumi—maka Satria Kabuyutan lebih menyerupai Crouching Tiger Hidden Dragon: imajinatif, penuh kedalaman batin, dan memukau dalam cara bertuturnya.
Sejak halaman pertama, pembaca seolah ditarik masuk ke dalam dunia yang tidak sepenuhnya kasat mata, tetapi terasa dekat secara emosional. Ada daya magis dalam alur ceritanya yang membuat pembaca ingin terus membuka halaman demi halaman, hingga tanpa sadar tiba di bagian akhir.
Namun kekuatan Satria Kabuyutan tidak berhenti pada aspek naratif. Novel ini melampaui batas sebagai sekadar cerita. Ia hadir sebagai bentuk pencerahan—sekaligus pelurusan persepsi—tentang siapa sebenarnya urang Sunda. Di dalamnya, tersirat usaha untuk mengembalikan kesadaran kolektif tentang nilai-nilai kabuyutan, spiritualitas, serta hubungan manusia dengan sejarah dan leluhurnya.
Dari pembacaan atas karya ini, muncul sebuah refleksi yang cukup mendalam: bahwa urang Sunda sejati yang hidup di masa kini tidak bisa dilepaskan dari identitas keislamannya. Bukan dalam arti sempit atau formal, melainkan sebagai bagian dari perjalanan sejarah panjang yang membentuk karakter, etika, dan pandangan hidup masyarakat Sunda hari ini.
Di sinilah Satria Kabuyutan menemukan relevansinya. Ia tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga menjawab kegelisahan masa kini—tentang identitas, tentang arah budaya, dan tentang bagaimana generasi muda memahami dirinya di tengah perubahan zaman.
Karya ini menjadi bukti bahwa sastra masih memiliki kekuatan untuk menyatukan imajinasi dan kesadaran. Bahwa dari Karawang, dari tangan seorang anak muda, lahir sebuah narasi besar tentang Sunda—bukan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai energi hidup yang terus bergerak dan mencari makna.
Oleh : Ust Solehudin, Praktisi Pendidikan dan Keagamaan
