Literasi Politik Pohon Mangga

Setiap melihat pohon mangga, ingatan saya suka sontak teringat sama Paulo Freire, mantan revolusioner pendidikan Brasil, penulis buku Pedagogy of the Oppressed yang legendaris itu. Freire menulis buku tersebut sambil berkontemplasi di bawah naungan pohon mangga. Itu sebabnya, dalam bayangan personal saya, buku itu seperti lahir dari keteduhan, dari ruang sunyi yang justru penuh pergolakan pikiran tentang manusia dan pembebasan.

Kebetulan sore ini saya sedang nongkrong di depan pohon mangga juga. Ada semacam resonansi yang aneh, seolah tempat sederhana ini menjadi ruang refleksi kecil yang menghubungkan pengalaman membaca saya di masa lalu dengan situasi hari ini. Pertama kali membaca bukunya tahun 2016, meminjam dari Perpustakaan Karawang. Saat itu, saya harus jujur, alur tulisannya terasa berat. Beberapa kali mencoba menamatkannya, kepala terasa mumet, seakan-akan setiap paragraf meminta perhatian penuh dan kesabaran ekstra.

Namun, meskipun tidak semua bagian berhasil saya cerna dengan utuh, ada beberapa kepingan gagasan yang tertinggal dan terus hidup di kepala. Salah satunya adalah bagaimana Freire memandang pentingnya pendidikan politik bagi masyarakat, terutama masyarakat biasa. Bukan politik dalam pengertian praktis yang hanya berkutat pada ajakan “pilih saya, jangan dia”, melainkan sesuatu yang lebih mendasar: pedagogi politik.

Dalam gagasan itu, politik bukan sekadar arena perebutan kekuasaan, tetapi ruang belajar. Pedagogi politik mengajarkan masyarakat untuk memahami persoalan-persoalan publik yang mereka hadapi sehari-hari, persoalan yang sebenarnya melekat dalam kehidupan mereka sendiri. Dengan pemahaman itu, masyarakat tidak lagi menjadi objek, melainkan subjek yang sadar, yang mampu membaca realitas sosialnya.

Freire tampaknya melihat kecenderungan dalam praktik politik yang kerap dipenuhi kebohongan demi mencapai kekuasaan. Dari situlah urgensi pendidikan politik menjadi jelas. Ketika masyarakat tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang kebijakan publik dan dinamika kekuasaan, mereka akan terus berada dalam posisi yang rentan untuk dimanipulasi. Sebaliknya, masyarakat yang melek politik memiliki daya kritis untuk mempertanyakan, menilai, bahkan menolak narasi yang menyesatkan.

Membaca Freire memang tidak selalu mudah, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia tidak menawarkan bacaan ringan, melainkan undangan untuk berpikir, bahkan untuk gelisah. Dan mungkin, seperti pohon mangga yang menaunginya saat menulis, gagasan-gagasan itu memang membutuhkan waktu, keteduhan, dan kesediaan untuk berdiam sejenak agar bisa benar-benar dipahami.

 

 

Leave a Comment