Forum Literasi Karawang Gelar Sarasehan Literasi Anak Muda

Pada 16 Oktober 2016, sebuah ruang sederhana di Saung Berem menjadi saksi tumbuhnya semangat intelektual anak-anak muda Karawang. Dalam suasana hangat dan bersahaja, Asep R. Sundapura bersama komunitas serta para penggiat literasi lokal menggelar kegiatan Sarasehan Literasi Karawang 2016.

Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ia menjadi ruang temu gagasan, tempat bertukar pikiran, sekaligus wadah bagi generasi muda untuk mengasah kepekaan berpikir di tengah derasnya arus informasi yang kerap tidak terarah. Suasana yang tercipta begitu hidup—penuh semangat, kritis, tajam, dan cerdas—mencerminkan potensi besar yang dimiliki anak-anak muda Karawang.


Dalam sarasehan tersebut, berbagai isu dibahas secara terbuka—mulai dari budaya, sejarah, hingga kondisi sosial Karawang masa kini. Diskusi mengalir tanpa sekat, memperlihatkan bahwa literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami realitas, mengolah informasi, dan menyampaikan gagasan secara kritis.

Bagi banyak peserta, kegiatan ini menjadi pengalaman penting. Di tengah keterbatasan ruang literasi formal, kehadiran sarasehan seperti ini menjadi alternatif yang hidup—membawa literasi kembali ke akar komunitas.


Sebagai Ketua Forum Literasi Karawang, Asep R. Sundapura menegaskan bahwa literasi memiliki peran yang sangat mendasar dalam membangun kualitas manusia. “Literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi bagaimana manusia mampu berpikir jernih, memahami realitas, dan tidak mudah terbawa arus. Dari literasi lahir kesadaran, dan dari kesadaran lahir perubahan.”

Ia juga menekankan bahwa literasi adalah kunci agar generasi muda tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman. Kalau anak muda tidak kuat dalam literasi, maka mereka akan mudah dipengaruhi, bahkan dimanfaatkan. Tapi kalau mereka kritis dan cerdas, mereka bisa menjadi penggerak perubahan di daerahnya sendiri.”

Literasi sebagai Gerakan Budaya

Sarasehan Literasi Karawang 2016 menunjukkan bahwa literasi bukan hanya aktivitas akademik, melainkan bagian dari gerakan budaya. Ia hidup dalam diskusi, dalam perjumpaan, dalam keberanian menyampaikan pendapat, dan dalam kesediaan untuk terus belajar.

Semangat yang terlihat di Saung Berem hari itu menjadi bukti bahwa di tengah berbagai tantangan, masih ada harapan besar pada generasi muda Karawang. Mereka tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi sebagai subjek yang berpikir, bertanya, dan bergerak.

Sarasehan Literasi Karawang 2016 mungkin berlangsung sederhana, tetapi maknanya jauh melampaui ruang dan waktu. Ia adalah awal dari kesadaran kolektif bahwa literasi adalah fondasi peradaban.

Dari saung kecil di Rengasdengklok, suara-suara muda itu menggema—menandakan bahwa masa depan Karawang tidak hanya dibangun oleh beton dan industri, tetapi juga oleh pikiran-pikiran yang tajam dan hati yang tercerahkan.

Leave a Comment