Saya mengikuti hari pertama kegiatan 4 Days Workshop Grounded Execution Training Batch B-VII-2019 yang dipandu oleh Coach Dr. Fahmi dengan satu pemahaman kuat yang langsung terasa: data adalah fondasi utama dalam setiap sistem operasional, baik untuk diri sendiri maupun organisasi atau perusahaan. Tanpa data yang benar, keputusan bisa melenceng jauh. Salah membaca situasi bisa berujung fatal—yang disangka maling ternyata bukan, yang dikira akan untung justru buntung.
Dari sesi ini saya semakin menyadari bahwa data bukan sekadar ada, tetapi harus benar-benar lengkap, memadai (adequate), terstruktur dengan baik (MECE), dan disajikan dalam kondisi matang (saturation).
Tidak cukup hanya mengumpulkan, kita juga harus mampu “berdansa” dengan data—memahami, menyatu, dan mengolahnya dengan kesadaran penuh. Ketika sistem data dan pelakunya bisa selaras (verstehen), kita tidak akan mudah terjebak hoaks, asumsi, atau sekadar perasaan. Banyak keputusan keliru lahir dari data yang setengah matang—produk yang dikira akan laku ternyata pasar sudah penuh, bisnis yang diprediksi untung justru masuk ke market yang jenuh. Akhirnya hanya bisa bengong melihat kenyataan.
Ketika data sudah lengkap, terstruktur, dan matang, maka proses pertumbuhan bisa dipercepat. Kita menjadi lebih objektif dan sahih dalam memetakan pasar, memahami pelanggan, mengevaluasi produk, hingga menentukan nilai dan keunggulan bisnis. Dari sanalah kita bisa menemukan leverage dan membaca kondisi bisnis secara lebih tajam. Semua menjadi berbasis fakta, bukan sekadar dugaan.
Sayangnya, banyak perusahaan—terutama UKM—masih sering mengabaikan urgensi data. Fokus lebih banyak pada produksi. Begitu produk selesai, barulah kebingungan mencari pasar. Jalur pemasaran buntu, sementara biaya produksi sudah dikeluarkan besar.
Bahkan ada yang sampai meminjam dana untuk produksi, tetapi setelah barang jadi justru tidak tahu harus dijual ke mana. Cerita seperti ini ternyata banyak terjadi. Eksekusi bisnis seharusnya berjalan dari hulu ke hilir secara akurat, meskipun belum sempurna, setidaknya harus berbasis pada data yang bisa dipercaya. Tanpa itu, risiko kesalahan menjadi sangat besar—bahkan sampai pada keputusan fatal seperti membayar mahal untuk sesuatu yang ternyata sudah tidak ada atau tidak relevan.
Melalui pemahaman Grounded Strategy, saya diajak untuk lebih membumi—memahami “laut” tempat kita berenang dan mengenali mesin yang kita jalankan agar bisa bekerja lebih efisien. Dalam konteks bisnis, pendekatannya sederhana namun mendasar, yaitu fokus pada lima pilar utama: omzet, SDM, customer, cost, dan organization.
Di luar itu, barulah inovasi dan kreativitas dikembangkan sebagai variasi. Dengan fondasi ini, target untuk scale up menjadi lebih realistis dan terarah.
Hari pertama ini benar-benar membuka kesadaran saya tentang pentingnya referensi data yang akurat dalam menciptakan sesuatu. Sebuah pengingat yang sederhana tapi dalam. Untung masih bisa saya ingat, mungkin karena tadi lupa bikin kopi tapi tidak sempat dikocok.
Sebagaimana pesan yang disampaikan Coach Dr. Fahmi, “Hanya baja yang bisa menempa besi, hanya yang kuat yang bisa menguatkan.” Sebuah kalimat yang menutup hari dengan makna bahwa proses belajar dan pembentukan diri memang membutuhkan kekuatan—dan salah satu kekuatan itu adalah kemampuan memahami dan menggunakan data dengan benar.
