Rethinking Seni

Seni kebudayaan tidak selalu lahir sebagai penghibur. Ia tidak melulu datang untuk mengajak orang bernyanyi di bawah lampu panggung atau meninabobokan perasaan dengan nada yang merdu. Ada waktunya seni berdiri lebih tegas, lebih tajam, bahkan menggempur.

Ia berubah dari irama menjadi keberanian, dari alunan menjadi ajakan untuk melawan rasa takut.

Di tanah-tanah yang akrab dengan suara kendang, gamelan, atau seruling bambu, seni memang sering hadir sebagai peneduh. Namun sejarah juga mencatat, pada masa tertentu, seni memilih jalan lain. Ia meninggalkan alat musik, lalu menjelma menjadi semangat yang tajam seperti pedang.

Ia tidak lagi tampil di panggung hiburan desa atau kota, tetapi hadir di tengah kerumunan, di jalanan, di medan yang penuh teriakan dan tuntutan.

Seni tidak selalu dipanggil oleh penguasa untuk meramaikan acara atau meredakan suasana. Ada masa ketika justru seni yang menentukan arah, yang mempengaruhi siapa yang berkuasa dan siapa yang bersuara. Dalam bentuk paling sederhana—poster di dinding, syair di mulut rakyat, atau nyanyian yang berubah jadi pekikan—seni menjadi milik bersama, bukan lagi milik segelintir orang.

Ia tidak selalu hadir dalam nada dan irama yang tertata rapi. Kadang ia muncul sebagai kepalan tangan, sebagai suara yang pecah di tengah keramaian pasar, di sudut kampung, atau di halaman balai desa.

Dari situ, seni berubah menjadi cara rakyat membakar semangatnya sendiri, bukan sekadar hiburan yang menenangkan.

Seni kebudayaan juga tidak selamanya diam seperti batu. Ia bisa menyala seperti api—kecil di awal, lalu membesar, menjalar dari satu orang ke orang lain. Ia tidak selalu menjadi nina bobo yang membuat orang terlelap nyaman, tetapi bisa menjadi pekikan yang membangunkan dada dan kepala, menggugah kesadaran yang lama terpendam.

Memang, seni tidak harus selalu enak didengar atau indah dipandang. Ada kalanya ia terasa keras, bahkan menakutkan. Namun justru di situlah ia menemukan perannya sebagai ruang keberanian. Seni tidak selalu netral, tidak selalu berdiri di tengah. Ada saatnya ia memilih berpihak, beroposisi, dan memberi rakyat wahana untuk menyampaikan aspirasi perlawanan.

Dan di negeri yang kaya akan budaya seperti ini, perlawanan itu sering hadir dengan cara yang tetap santun, namun menggetarkan. Tidak berisik, tetapi terasa dalam. Tidak selalu terlihat, tetapi mampu mengubah arah. Seni, pada akhirnya, adalah napas yang hidup—kadang lembut, kadang membara—mengikuti denyut masyarakat yang melahirkannya.

Leave a Comment