Ini sebuah kisah yang terjadi tahun 1970 an. Warga Desa Selang di Telagasari sudah berkali-kali minta pada pemerintah untuk bisa mengganti nama kampung-nya.
Nama Kampung Selang seperti nama kutukan, begitu tutur warga.
Alasannya, banyak Kades sebelumnya di Desa Selang bernasib kurang beruntung. Mereka kalau tidak diberhentikan atau kena hukum dan masuk Sel (penjara) biasanya hilang atau terbunuh. Hal itu dianggap karena pengaruh nama yang dikirata-kan.
Jadi nama Selang yang diakronimkan SEL (penjara) dan LANG (hilang/meninggal) dianggap membawa sial. Itu sebabnya warga beberapa kali usul ganti nama, meskipun pemerintah tidak terlalu merespon.
Makna kata Selang sendiri dalam kosakata Sunda bisa berarti penggambaran nama harimau kecil dan trengginas, atau bisa juga dari panyelang atau pengganti sementara. Dan makna pengganti sementara ini yang nampaknya mempengaruhi proses kepemimpinan di desa tersebut sehingga para kepala desa-nya pada masa lalu tidak pernah tuntas memimpin, hanya sekadar panyelang atau pemimpin sementara.
Pada mulanya pemerintah belum merespon usul penggantian nama Desa Selang. Tapi akhirnya karena desakan warga yang kuat pemerintah mengabulkan. Nama desa Selang diganti. Warga memilih nama Ciwaringin sebagai gantinya.
Nama itu dipilih sebagai bentuk ikhtiar pencarian berkah dari air (Ci) sebagai sumber penghidupan dan Waringin, pohon tempat berlindung/ berteduh.
Begitulah yang tertulis dalam sebuah laporan di Pemerintahan Jawa Barat pada awal 1970.
Cerita di atas hanya sebuah contoh, bagaimana masyarakat dahulu merespon penamaan secara sungguh-sungguh termasuk kaitannya dengan aspek politis.
Cak Lontong bilang : Nama membawa rasa. Dan saat nama-nama desa di Karawang tenggelam atau tergeser oleh nama-nama seperti Grand, Regency, Festival, Mekar, dan sebagainya maka hal itu bukan hanya membawa perubahan rasa tapi juga sejarah. Dalam perspektif kebudayaan, disitulah arti Karuhun Pundung, Karamat Suwung Dangiang.
Sebuah disrupsi terhadap pola-pola lama yang menimbulkan shifting atau pergantian di sisi lingkungan, pola, adat dan karakter. Hal yang normal banyak terjadi di era modern, tapi disitulah tugas seniman, budayawan atau siapapun itu yakni untuk merawat kebudayaan dan sejarah tetap hadir di masa modern dan saat laju pembangunan melaju kencang.
Pentingnya penamaan seperti itu yang disadari juga oleh para tokoh dan pimpinan Karawang ketika mereka mengganti nama Krawang jadi Karawang. Padahal hanya beda satu hurup, tapi karena dinilai menyalahi makna dan sejarahnya maka dilakukanlah perubahan. Hal sama dirasakan para tokoh Tanjungpura saat mereka menolak nama baru Tanjungmekar.
“Nama baru itu memutus ikatan masyarakat dengan sejarahnya (Tanjungpura),” sedih salah seorang tokoh (Alm. Ahmad Gojali)
Karena nama membawa rasa, dan rasa menghadirkan cikal bakal sebuah nasib. Jadi jangan sembarangan memberi nama tempat, terutama bagi pemerintah. Berikan nama-nama tempat, bangunan umum/kantor, jalan atau sarana dan fasilitas publik lainnya secara baik termasuk dari sisi kebudayaan dan sejarah. Karena sejarah dan identitas sebuah masyarakat seringkali melekat pada sebuah nama. Libatkan masyarakat untuk merumuskan nama baru, jangan hanya pengusaha atau konsultan saja yang diajak bicara.
