Dalam tradisi pantun Sunda, tersimpan satu kesadaran penting: bahwa kebenaran tidak selalu bersifat mutlak, melainkan bergerak mengikuti zaman. Apa yang dahulu dianggap benar bisa saja dipersoalkan di masa kini, sementara yang dulu dianggap keliru justru memperoleh pembenaran baru. Setiap mangsa memiliki cara pandang, nilai, dan logikanya sendiri. Karena itu, menilai masa lalu dengan ukuran pemikiran kiwari sering kali melahirkan kesalahpahaman.
Hal ini tampak dalam perdebatan mengenai sosok Sri Baduga Maharaja atau Siliwangi. Sebagian kalangan meyakini ia seorang muslim, dengan alasan tidak mungkin Syekh Quro menikahkan muridnya, Subang Karancang, dengan raja non-muslim. Namun, jika dilihat dalam konteks zamannya, pernikahan lintas keyakinan bukanlah hal yang mustahil, terutama ketika dilandasi kepentingan politik, sebagaimana terjadi dalam relasi kerajaan-kerajaan seperti Samudera Pasai. Bahkan jika benar Siliwangi sempat memeluk Islam, kemungkinan perubahan keyakinan kembali bukan sesuatu yang asing dalam dinamika spiritual masa itu. Sumber-sumber seperti catatan Tomé Pires, Naskah Caruban, tradisi pantun, hingga naskah Sunda Kuna justru lebih banyak mengindikasikan bahwa ia bukan seorang muslim.
Contoh lain dapat dilihat dalam peristiwa Perang Bubat yang melibatkan Dyah Pitaloka. Dari sudut pandang modern, kehadiran pihak perempuan ke tempat laki-laki kerap dianggap janggal. Namun dalam struktur sosial feodal masa itu, hal tersebut bukan persoalan budaya, melainkan status. Seorang raja tidak lazim mendatangi pihak perempuan; sebaliknya, pihak perempuanlah yang datang, baik sebagai bentuk penghormatan, persembahan, maupun bagian dari aliansi politik. Dalam tatanan tersebut, relasi gender pun menempatkan perempuan di bawah laki-laki, yang turut menjelaskan praktik poligami luas di kalangan raja-raja.
Semua ini mengingatkan kita pada ungkapan: ulin ka baheula, nganjang ka pageto—menengok masa lalu dengan kesadaran zamannya, dan memahami masa kini tanpa tercerabut dari akar sejarah. Dengan begitu, kita tidak tergesa-gesa menghakimi, melainkan belajar membaca jejak peradaban secara lebih arif dan proporsional.
