Tradisi pantun mengatakan bahwa apa yg dahulu dianggap benar bisa jadi akan disalahkan di masa kini. Begitu pula yg dahulu dianggap salah malah jadi benar di masa kini seperti halnya apa yg sekarang dianggap benar/salah akan berubah anggapan di masa yg akan datang.
Setiap mangsa/ jaman ….memiliki pemikirannya sendiri. Kita tidak bisa secara mutlak menghukumi peristiwa masa lalu dg pola pikir Kiwari.
Contoh banyak yg menganggap Siliwangi itu muslim hanya karena penilaian bahwa tidak mungkin Syeh Quro yg seorang wali akan menikahkan santrinya (Subang Karancang) dg orang kafir.
Jaman dulu menikahkan seorang putri yg muslim dg seorang raja non muslim sesuatu yg biasa karena lebih dilandasi pertimbangan politik spt kasus raja Pasai. Bahwasannya Siliwangi akhirnya betul2 masuk Islam spt dibilang dalam cerita rakyat Karawang itu bisa saja, sebelum kemudian nanti balik lg ke agama leluhur, spt disebutkan oleh pihak lain.
Meski catatan Pires, Naskah Caruban, Tradisi pantun dan kepingan naskah Sunda Kuna mengindikasikan Siliwangi itu bukanlah seorang muslim
Kedua masalah pernikahan Pitaloka di Bubat yg secara budaya kekinian dianggap aneh oleh kita karena pihak perempuan datang ke pihak laki. Ini sebetulnya bukan masalah budaya, tapi lebih ke soal status sosial.
Di jaman kuna tidak ada ceritanya seorang raja datang nyamperin ke pihak wanita. Selalu si wanitanya yang datang baik sbg sembahan/upeti, ataupun dianter pihak keluarga. Kalo lakinya rakyat biasa/bukan raja mungkin ceritanya lain. Karena dalam pandangan feodal/raja-raja setinggi apapun posisi perempuan tetap dianggap dibawah laki. Itu sebabnya raja2 kuna enjoy saja punya istri/selir sampe puluhan atau ratusan.
Dalam pola pikir Kiwari semua itu kurang logis. Dan disitulah makna ungkapan budaya : Ulin ka baheula, nganjang ka pageto. Yakni memposisikan cara pandang sesuai jamannya.
