Obrolan hari itu mengalir santai, ditemani kopi dan suasana yang seadanya. Saya membuka tema dengan ringan, sekadar mengisi waktu: apakah Karawang layak menjadi bagian dari Jaringan Kota Kreatif Dunia di bawah UNESCO? Kawan ngopi saya langsung merespons dengan nada pesimis, bahkan cenderung sinis.
Baginya, kondisi Karawang saat ini belum mencerminkan kota kreatif: tata ruang yang belum jelas, minimnya ruang kreasi dan event kreatif, hingga persoalan klasik seperti sampah dan Sungai Citarum. Kesimpulannya tegas—jangan berharap terlalu tinggi.
Saya sempat diam, menghirup kopi, lalu mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Bagi saya, kemungkinan itu tetap ada. Karawang bukan kota tanpa modal. Sejak awal Masehi, wilayah ini sudah menjadi bagian dari peradaban Sunda yang terkoneksi secara internasional, bahkan menjadi bagian dari kejayaan Taruma di abad ke-4 hingga ke-7.
Jejak sejarah itu bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi fondasi identitas yang bisa dikembangkan ke depan. Selain itu, Karawang juga memiliki branding kuat sebagai lumbung pangan nasional, serta kawasan strategis budaya seperti Batujaya yang menyimpan nilai historis dan arkeologis penting.
Kawan ngopi saya segera memotong, mengingatkan bahwa semua itu adalah cerita masa lalu. Saya pun menegaskan bahwa yang saya bicarakan justru masa depan. Dari tujuh kategori kota kreatif yang ditetapkan UNESCO, Karawang setidaknya memiliki dua potensi yang bisa digarap serius: Craft and Folk Art serta Gastronomi.
Kekuatan budaya lokal, tradisi kerajinan, hingga kekayaan kuliner khas menjadi modal nyata yang bisa diangkat ke level global—tentu dengan kerja serius dan konsisten.
Namun pertanyaan berikutnya muncul, siapa yang akan benar-benar menyeriusi hal ini? Skeptisisme itu terasa masuk akal. Tanpa komitmen dari berbagai pihak—pemerintah, komunitas, pelaku kreatif—semua potensi hanya akan menjadi wacana.
Menanggapi hal tersebut, Asep R. Sundapura, Ketua Forum Ekraf, menyampaikan bahwa peluang Karawang untuk masuk dalam jaringan Kota Kreatif Dunia tetap terbuka. Menurutnya, “Karawang memiliki kekayaan budaya dan potensi ekonomi kreatif yang kuat, khususnya di sektor kriya dan gastronomi.
Tantangannya bukan pada ada atau tidaknya potensi, tetapi pada konsistensi, kolaborasi, dan keberanian untuk membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan. Jika itu bisa dilakukan, Karawang bukan tidak mungkin menjadi bagian dari jaringan kota kreatif dunia.”
Obrolan pun berakhir tanpa kesimpulan mutlak. Kawan ngopi saya mungkin benar dengan segala skeptisismenya, tetapi harapan juga tidak sepenuhnya keliru. Di antara realitas dan kemungkinan, Karawang berdiri—menunggu apakah ia akan tetap menjadi cerita masa lalu, atau benar-benar melangkah menuju masa depan yang lebih kreatif.
