Konon, ketika Tarusbawa mengganti nama kerajaan dari Taruma jadi Sunda, maka Wretikandayun menantu Linggawarman yang jadi penguasa Kendan kemudian memisahkan diri dan membentuk Galuh sehingga wilayah Sunda terbagi dua dengan Citarum sebagai batas.
Meskipun ada juga dugaan bahwa memisahkan diri gara-gara penggantian nama kerajaan sebenarnya hanya alasan yg dibuat-buat, tetapi dasar sebenarnya adalah persaingan tahta sebagai sama-sama menantu Linggawarman.
Namun yang pasti pemisahan kedua kerajaan tersebut membentuk dua kubu politik yg berbeda, saling curiga, dan menimbulkan banyak peperangan seperti tersurat dalam Carita Parahyangan dan Teks Amanat Galunggung.
Dan semua itu diawali dengan “Konon” lahirnya nama Sunda sbg nama resmi daerah. Dan jika itu benar maka betapa teguhnya seorang Tarusbawa yg rela kehilangan separo wilayah hanya untuk memperjuangkan nama Sunda sbg identitas politik dan wilayahnya. Camkan, betapa agungnya nama Sunda bagi seorang Tarusbawa hingga mau berkorban demikian besar.
Karena nama Sunda itu bagi yg memahaminya adalah lebih dari sebuah nama suku atau wilayah, tetapi nama kewibawaan, jatidiri, impian dan ketegasan.
Demikian pula bagi pihak luar yg memahami nama Sunda maka mereka juga tidak akan rela nama Sunda menjadi nama yg seharusnya. Mereka ingin nama Sunda tetap tenggelam dalam segala keterbatasannya, dalam Ruang Kurung Batokeunnya, dalam makna-makna yg statis, tidak memberdayakan atau jauh dari menginspirasi.
Pantun-pantun Buhun seperti Pantun Bogor misalnya, dalam banyak tempat begitu sering menuturkan tentang adanya pihak-pihak yg bukan hanya tidak ingin Sunda Bangkit, tapi juga mereka membenci nama Sunda itu sendiri.
Ini bukan soal primordialisme, tetapi ketika banyak negara di dunia modern juga merubah nama negaranya karena mereka menyadari pentingnya sebuah nama wilayah yg merefresentasikan kebesarannya, harapan-harapannya atau ketegasan eksistensinya.
