Lembur Babakan Karawang menyimpan jejak sejarah panjang yang hidup dalam ingatan para sesepuhnya. Kampung ini diyakini sebagai salah satu titik awal “Lampah Ngajalur Babakti Ka Karawang”, sebuah perjalanan spiritual dan historis yang mengakar kuat dalam tradisi lokal. Sosok yang membuka lembur ini adalah Ki Asimin, putra seorang ulama yang justru memilih menjalani kehidupan melalui jalur buhun atau tradisi leluhur. Pilihan hidupnya menjadi fondasi awal terbentuknya komunitas yang hingga kini masih menjaga nilai-nilai adat.
Ki Asimin—yang juga dikenal sebagai Ki Asemen—hidup sezaman dengan Pangeran Jayakarta, pada masa sebelum kedatangan Kompeni menjajah Nusantara, bahkan sebelum tokoh-tokoh seperti Singaperbangsa dan Wirasaba hadir di wilayah Karawang sekitar tahun 1610–1619. Masa itu dikenal sebagai Jaman Bubuka Karawang, ketika wilayah dari Sadari hingga Kuta Tandingan mulai dibuka menjadi permukiman. Dalam konteks ini, Babakan Karawang bukan sekadar kampung, melainkan bagian dari denyut awal terbentuknya kawasan yang kelak berkembang menjadi Karawang.
Secara historis, lembur ini pernah menjadi bagian dari pusat dayeuh Krawang Kulon, yang membentang dari wilayah utara hingga Tanjungpura, lalu terhubung dengan Krawang Wetan. Di dalamnya terdapat Lemah Paneuneuban, sebuah tempat yang memiliki makna penting sebagai titik berkumpul tujuh sahabat sesepuh Karawang, mulai dari Kyai Muklis Cibutek hingga Kyai Bunder Loji. Tempat ini bukan hanya simbol kebersamaan, tetapi juga ruang spiritual yang memperkuat hubungan antar tokoh adat dan masyarakat.
Nama Babakan Karawang sendiri telah melekat sebagai identitas adat yang kuat. Meskipun pada tahun 1950-an pemerintah sempat mengubahnya menjadi Karangasih, masyarakat tetap kembali menggunakan nama Babakan Karawang sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan warisan leluhur. Hingga kini, lembur ini telah memasuki generasi kelima, menunjukkan kesinambungan tradisi yang tetap terjaga di tengah perubahan zaman.
Secara geografis, Babakan Karawang terletak tidak jauh dari muara pertemuan Kali Bengbeng dan Cibuaya, sebuah lokasi yang sejak dahulu mendukung kehidupan masyarakatnya yang mayoritas bertani dan berkebun. Kehidupan agraris ini menjadi bagian dari identitas sosial yang terus dipertahankan. Saat ini, masyarakat lembur tengah berupaya membangun sebuah mushola sebagai sarana ibadah dan pendidikan bagi para santri, sebuah langkah yang mencerminkan perpaduan antara nilai spiritual Islam dan tradisi buhun yang telah lama hidup berdampingan di wilayah tersebut.
