Kisah Perjalanan Walangsungsang, Putera Prabu Siliwangi menjadi salah satu narasi budaya yang hidup di tengah masyarakat pesisir Karawang. Kisah ini tidak sekadar perjalanan fisik menyusuri pantai, tetapi juga jejak spiritual dan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun. Walangsungsang dipercaya sebagai Sesepuh Karawang, sosok yang dalam cerita rakyat dikenal nyukcruk basisir Karawang, berjalan menyusuri garis pantai sambil ngala uyah piken pibahanen tarasi—mengumpulkan garam untuk diolah menjadi terasi, sebuah aktivitas yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat pesisir.
Konon, tatapakana—jejak langkahnya—ngadeg di sapanjang muara Karawang, seolah meninggalkan penanda spiritual di setiap titik pertemuan sungai dan laut. Perjalanan itu dimimitian ti Prahu Bosok di Muara Cilamaya – Pantai Tanjung Baru, tempat yang dipercaya menjadi awal tapak perjalanan beliau. Dari sana, langkah diteruskan ka Kyai Tangkal di Muara Ciparage – Pantai Cibendo, lalu nincak ka Kayu Laras di Muara Sungai Buntu – Pantai Samudera Baru, yang hingga kini masih menyimpan nuansa mistis dan kearifan lokal masyarakat setempat.
Perjalanan tidak berhenti di situ. Walangsungsang dikisahkan ngalongok ka Buyut Pal di Muara Cemara, lalu thaharah di Sumur Awisan Muara Pisangan – Pantai Pisangan, sebuah simbol penyucian diri sebelum melanjutkan perjalanan spiritual. Selanjutnya, beliau teruskn ka Syeh Jana di Muara Sadari, oge ka Tanjung Bali Tambak Sumur, hingga akhirnya brus ka Syeh Zakaria di Muara Pakis – Pantai Pakis. Rangkaian perjalanan ini membentuk jalur budaya yang menghubungkan berbagai muara di Karawang, masing-masing dengan cerita, nilai, dan kepercayaan yang masih hidup di tengah masyarakat.
Dalam konteks kekinian, perjalanan ini tidak hanya dimaknai sebagai napak tilas spiritual, tetapi juga sebagai wisata budaya yang mengajak urang pikeun leuwih deukeut ka alam jeung tradisi. Tong poho ngabandungan abrasi yang terus menggerus garis pantai, menjadi pengingat akan pentingnya menjaga lingkungan pesisir. Di sela perjalanan, pengunjung juga bisa icip-icip lotek pisangan, kuliner khas yang sederhana namun sarat rasa lokal, atau sekadar ngebak di pantai saat cuaca panas.
Semua itu menjadi semakin hidup ketika disertai dongengan Carita Si Kakap Gombreng, legenda yang dipercaya sebagai dangiangna sakabeh muara walungan di Karawang. Cerita ini memperkuat hubungan antara manusia, alam, dan dunia spiritual yang menjadi ciri khas budaya pesisir. Dengan demikian, nyukcruk lampah Walangsungsang bukan hanya perjalanan menyusuri tempat, tetapi juga perjalanan memahami jati diri, sejarah, dan kearifan lokal masyarakat Karawang yang tetap lestari hingga kini.
