Sunda Sembawa yang dimaknai sebagai Sunda Wiwitan atau Sunda Mimiti, tercatat dalam prasasti peninggalan Sri Baduga Maharaja pada abad ke-15 yang menjelaskan bahwa Sunda Sembawa merupakan sebuah kawasan suci yang sangat dilindungi oleh negara. Istilah ini tidak sekadar menunjuk pada sebuah tempat, tetapi juga mengandung makna asal-usul, titik mula, atau wilayah awal terbentuknya entitas Sunda sebagai sebuah kekuatan yang diakui.
Mengapa disebut Sunda Sembawa atau Sunda Mimiti? Hal ini dikaitkan dengan anggapan bahwa di lokasi tersebut Sunda sebagai sebuah entitas politik yang bersifat transnasional pertama kali lahir dan dikenal oleh dunia internasional. Sementara itu, sebagai entitas sosial dan budaya, perkembangan masyarakat Sunda sering dikaitkan dengan wilayah Sukabumi dan kawasan Parahyangan. Dengan demikian, terdapat dua lapisan pemahaman: Sunda sebagai kekuatan politik yang dikenal keluar, dan Sunda sebagai komunitas budaya yang tumbuh dari dalam.
Pertanyaan mengenai lokasi Sunda Sembawa pun menjadi perdebatan. Ada yang meyakini bahwa wilayah tersebut berada di Dataran Tinggi Parahyangan. Namun, pandangan lain menyebutkan bahwa Sunda Sembawa justru terletak di wilayah Karawang bagian utara. Pendapat ini didasarkan pada sejumlah temuan dan jejak historis yang dianggap memperkuat keberadaan awal Sunda di kawasan tersebut.
Di Karawang utara ditemukan artefak Buni yang secara arkeologis terbukti sangat tua, menunjukkan adanya peradaban awal yang berkembang di wilayah pesisir tersebut. Selain itu, terdapat kompleks percandian Batujaya yang memiliki bentuk dan corak khas zamannya, menandakan adanya aktivitas keagamaan dan budaya yang telah mapan sejak lama. Keberadaan situs ini memperlihatkan bahwa kawasan tersebut bukan sekadar permukiman biasa, melainkan pusat penting dalam perkembangan awal peradaban.
Jejak lain yang sering dikaitkan adalah keberadaan sungai tua bernama Walungan Tirem. Nama ini dikaitkan dengan tokoh Ki Tirem yang disebut sebagai figur awal dalam tradisi Sunda. Sungai tersebut dianggap berada dalam satu kawasan dengan Sungai Candrabagha serta wilayah bekas pusat kekuasaan Tarumanagara di Lemah Datar, Bekasi sekarang. Catatan mengenai wilayah ini bahkan disebut pernah dikenal oleh pihak Kompeni, meskipun keterkaitannya sering dianggap masih memerlukan penafsiran lebih lanjut.
Di Batujaya juga ditemukan batu tegak yang berkaitan dengan tradisi keagamaan Sunda serta batu beraksara yang menunjukkan adanya sistem simbol dan komunikasi tertulis. Temuan ini dianggap sebagai bukti konkret eksistensi awal masyarakat Sunda di wilayah Karawang utara. Selain itu, terdapat dugaan adanya tapak pelabuhan besar yang berfungsi sebagai emporium internasional, dikenal sebagai Ko-ying, yang menjadi titik pertemuan berbagai bangsa. Dari sinilah, menurut sebagian pandangan, dunia luar mulai mengenal istilah Sundaland.
Lebih jauh lagi, disebutkan adanya Nagara Salakadomas atau Kuta Tambageu di Karawang Selatan yang diidentifikasi sebagai Argyre, sebuah kerajaan awal masyarakat Sunda. Keberadaannya dapat ditelusuri melalui tradisi lisan, kondisi alam, maupun sejumlah catatan yang masih tersisa. Pandangan ini berbeda dengan anggapan mengenai Salakanagara di wilayah Kadu Hejo, Teluk Lada, Pandeglang, yang dalam perspektif ini dianggap sebagai entitas yang didirikan oleh pendatang dari India.
Dengan berbagai jejak tersebut, Karawang utara dipandang sebagai kandidat kuat lokasi Sunda Sembawa, tempat di mana identitas Sunda pertama kali muncul ke permukaan sebagai kekuatan yang dikenal luas. Meskipun demikian, perdebatan mengenai hal ini tetap terbuka, memperlihatkan betapa kaya dan kompleksnya penelusuran asal-usul Sunda dalam lintasan sejarah Nusantara.
