Sakralitas Fashion Budaya dan keagamaan Sunda

Diceritakan bahwa Sultan Banten pernah mengirimi Amangkurat I seperangkat jubah putih pakaian khas Arab saat hubungan antara Banten dengan Mataram sedang tegang sekitartahun 1650-an.

Pemberian pakaian itu untuk menyindir Mangkurat I yang dinilai tidak mencerminkan sosok pemimpin dan muslim yang saleh karena beberapa kebijakannya selama memimpin Mataram.

Di Nusantara, sejak masuknya Islam, entah bagaimana pakaian dianggap sebagai sebuah indikator untuk mengukur kesalehan dan tingkat religiusitas seseorang. Pulang haji tidak sah kalau tidak pakai peci putih. Belum pas dibilang Ustadz kalau belum bawa-bawa sorban.

Kita beralih ke Tanah Pasundan.
Untuk melemahkan semangat kebudayaan dalam berpakaian di kalangan anak muda masa kini, kita cukup menyematkan sebutan dukun untuk mereka yang suka berpakaian Sunda Tradisional seperti pangsi hitam dan ikat kepala.

Pakaian, fashion …… menawarkan seperangkat tata nilai, imajinasi moral dan keyakinan tertentu yang sebetulnya menipu. Tetapi, kita imani karena hal itu sudah mewujud menjadi adat kebiasaan. Bahwa kalau orang berpakaian seperti orang Arab kemungkinan besar dia orang saleh.

Jubah putih, sorban panjang ….. bukan sebatas pakaian dari Timur Tengah. Namun membawa serta instrumen di belakangnya berupa kesucian, religiusitas murni, kesalehan dan sebagainya —- sebagaimana diyakini Raja Banten waktu itu.

Dan itu tidak sepenuhnya salah karena Raja Banten dan rakyatnya dan juga kita di masa kini, mengenal instrumen seperti kesucian, religiusitas, dan lainnya dari orang-orang dengan pakaian seperti itu. Kita menerimanya begitu saja.

Dan hal itu yang kemudian menciptakan asosiasi alamiah bahwa berjubah putih dan panjang itu berarti tanda kesalehan.

Sebuah paradigma yang di Arabnya sendiri tidak berlaku karena di sana cara berpakaiannya memang sudah seperti itu. Namun saat jenis pakaian seperti itu tiba di Nusantara, paradigmanya berubah.
Tapi jangan keliru. Mungkin juga kebudayaan lokal memiliki hal serupa. Misal asosiasi para resi Agama Lokal dengan pakaian selempang serba putih. Sebagai tanda keluhuran pengetahuan dan penghayatan kepada Hyang Tunggal.

Ata di era modern, bahwa orang pakai jas dan dasi ter-asosiasikan sebagai orang sukses, kaya dan profesional.
___________________________________________
Di Sunda, karena pewarisan kebudayaannya terputus, terutama di soal pakaian, maka pilihan asosiasi di masa kini terbatas sekali. Hal itulah yang menyebabkan stigma bahwa pakaian tradisional Sunda seperti pangsi serba hitam diasosiasikan pada para dukun.

Seperti halnya kemenyan diasosiasikan bagian dari sosok hantu, sesajen itu memuja siluman, dan budaya tak lebih dari pertunjukan di atas panggung.

Jika sudah begitu tidak ada lagi yang tersisa dari Kebudayaan Lokal.

Kita bukan hanya harus meng-counter berbagai ‘miskomunikasi akut dalam berkebudayaan’ yang sudah mengkronis secara massif di masa kini seperti halnya tentang pakaian. Tetapi kita juga perlu mengenalkan lebih komprehensif tentang Jati diri dan kebudayaan kita sendiri.

Dan hal itu hanya bisa diwujudkan manakala kita mempelajari lagi pengetahuan tentang kebudayaan sendiri.

Leave a Comment