Selamat Hari Aksara Sedunia 2016

Hari ini, ketika dunia merayakan Hari Aksara Sedunia, saya justru teringat pada satu hal yang sering luput dari ingatan kolektif kita: bahwa Sunda telah lebih dahulu mengenal, merawat, dan menghidupkan aksara jauh sebelum datangnya tangan-tangan luar yang menafsirkan kita dengan kacamata sempit.

Sunda sudah ngulik yang namanya aksara sebelum kemudian orientalis menghajarnya dengan aksaranologi yang dipaksa tunduk pada kategori “Animisme” dan “Dinamisme.” Sebuah penyederhanaan yang bukan saja keliru, tetapi juga mereduksi kedalaman intelektual leluhur kita.

Saya teringat pada kisah Resi Kawiswara—sebuah gambaran tentang betapa luasnya khazanah literasi Sunda di masa lampau. Ia menyebutkan puluhan nama kitab, masing-masing dengan isi yang tidak main-main: dari perkara kaleupasan, tata cara menyembah Hyang, ilmu palintangan, teknik membuat pakarang, watak hari, hingga aji kesaktian. Ini bukan sekadar daftar bacaan. Ini adalah peradaban berpikir.

Lebih jauh lagi, penjelasan tentang media tulis menunjukkan bahwa leluhur Sunda tidak hanya mengenal aksara, tetapi juga memahami teknologi literasi secara mendalam. Lontar dan gebang bukan sekadar bahan, melainkan simbol stratifikasi pengetahuan.

Tulisan di atas lontar disebut carik—goresan yang dibuat dengan peso pengot. Ada kedekatan fisik antara penulis dan aksara, sebuah proses yang menuntut kesabaran dan ketelitian. Sementara tulisan di atas gebang disebut ceumeung—tinta yang diolah dari pohon damarsela atau nagasari. Di sini, aksara bukan hanya ditulis, tetapi diracik, dipersiapkan dengan kesadaran material.

Menariknya, naskah lontar bersifat terbuka—bukan hanya untuk Kabuyutan, tetapi untuk semua orang. Ini menandakan bahwa literasi bukanlah barang eksklusif. Ia hidup di tengah masyarakat. Namun, gebang memiliki batas: hanya untuk para Sewaka Darma, murid-murid Kabuyutan. Ada disiplin pengetahuan, ada etika dalam distribusi ilmu.

Dari sini kita belajar bahwa Sunda tidak hanya mengenal aksara, tetapi juga memahami ekologi pengetahuan—siapa yang boleh tahu, bagaimana cara tahu, dan untuk apa pengetahuan itu digunakan.

Hari Aksara Sedunia seharusnya bukan sekadar seremoni global. Bagi kita, ini adalah momen untuk menoleh ke belakang dan bertanya: apakah kita masih menjadi pewaris yang layak?

Atau justru kita adalah generasi yang kehilangan jejak, yang lebih mengenal alfabet asing daripada aksara sendiri?

Maka, hari ini, ucapan “Selamat Hari Aksara Sedunia” bukan hanya sebuah perayaan. Ia adalah panggilan. Panggilan untuk mengingat, menggali, dan menghidupkan kembali warisan yang pernah membuat Sunda berdiri tegak sebagai peradaban literer.

Karena aksara bukan sekadar simbol.
Ia adalah cara kita memahami dunia—dan pada akhirnya, memahami diri sendiri.

Leave a Comment