Wayang Fall in Love

Sejak kecil saya suka cerita wayang. Ingatan paling awal mengenai perjumpaan awal saya dengan dunia wayang adalah dalam acara hajatan warga kampung.

Waktu saya kecil, mungkin usia kelas 2-3 SD, pertunjukan wayang golek masih populer. Itu sekitar tahun 1990-an. Kalau ada pertunjukkan wayang golek saya usahakan nonton. Saya biasa-nya sudah stay sejak pagi, sebelum pertunjukkan dimulai. Posisi nonton favorit di atas panggung bagian pinggir. Berdesak-desakan dengan anak-anak lain atau sama wayang yang berjejer di tancapan gedebong (batang pisang).

Karakter punakawan seperti Cepot, Gareng dan Petruk merupakan favorit. Pertunjukkan wayang akan berubah ramai kalau tiga tokoh itu sudah muncul. Cerita akan semakin seru kalau para buta (raksasa/ denawa) juga ikut muncul. Fragmen humor akan mendominasi panggung dan membuat semua penonton tertawa.

Gatotkaca, Wayang Favorit Anak-Anak
Karakter lain yang biasanya menjadi favorit anak-anak adalah Gatotkaca. Dia sepertinya hero dunia wayang. Setiap solusi dari kejahatan peperangan dunia wayang selalu berakhir pada tokoh Gatotkaca.
Tokoh berjuluk Satria Pringgondani itu memang lumayan keren untuk imajinasi anak-anak. Dia bisa terbang, kuat dan berani. Tidak ada tokoh wayang lain sekuat Gatotkaca. Saya, seperti halnya kebanyakan anak-anak, mengagumi Gatotkaca.

Dari pertunjukkan wayang golek di acara hajatan, kemudian beralih ke surat kabar. Jaman Poskota masih berjaya dengan suplemen Doyok-nya.

Rubrik Wayang di Surat Kabar
Di koran Doyok terdapat kolom cerita wayang. Gambarnya hitam putih. Salah satu judul yang masih saya ingat yaitu Rajawali Bermata Kemala. Tidak tahu, bagaimana judul cerita itu begitu melekat di ingatan. Padahal, isi ceritanya sudah lupa tentang apa.

Tokoh wayang di koran Doyok yang saya sukai bernama Sanghyang Ciptarasa. Bukan termasuk tokoh wayang populer, karena di epos Mahabarata dan Ramayana namanya ternyata tidak ditemukan. Tapi dia memiliki kesaktian yang unik karena bisa menandingi kehebatan para Pandawa, dewa-dewa dan juga Semar. Sanghyang Ciptarasa adalah lawan tandingnya Sanghyang Ismaya atau Semar. Saya curiga, Sanghyang Ciptarasa itu Togog, saudaranya Semar. Sayang, saya ketinggalan mengikuti akhir cerita-nya.

Dari cerita wayang di Doyok-nya Poskota saya mulai kenal tokoh-tokoh Pandawa.

Kliping Wayang
Gambar-gambar wayang di Koran Doyok suka saya gunting dan ditempelkan ke buku gambar. Jadi semacam kliping. Buku kliping-nya saya simpan di atas atap rumah bibi. Jadi, kalau mau melihat kliping itu saya naik dulu pohon jambu, lalu rebahan di atap rumah. Lumayan tersembunyi. Entah apa maksudnya.

Siaran Wayang di Radio
Masuk SMP, perkenalan saya dengan dunia wayang melalui radio. Acaranya setiap hari minggu selepas dhuhur.

Sambil rebahan, saya mendengarkan dengan serius cerita wayang di radio. Biasanya saya sambil mencatat nama-nama tokoh wayang yang disebut oleh dalang. Dari situ pengetahuan saya tentang toko-tokoh wayang jadi bertambah. Terutama para Kurawa yang jumlahnya banyak dan nama-namanya suka mirip. Misal, Citraksa-Citraksi-Citrayudha. Di sini saya mulai menyukai keberadaan tokoh-tokoh Kurawa.

Saya kenal beberapa nama seperti Burisrawa, Lesmana Putera Duryudana, Aswatama dan lainnya. Banyaknya nama-nama wayang yang baru, dan cerita-nya yang juga beragam mematik rasa penasaran lebih besar. Saya pikir, dunia wayang ternyata sangat luas.

Kadang saya dengarkan juga wayang dalam bahasa Jawa. Artinya tidak tahu, tapi saya bisa mengenali penyebutan nama-nama tokohnya.
Komik Wayang

Saat SMP, pengetahuan saya tentang wayang sudah lumayan banyak jika dibandingkan teman-teman. Dan saat SMP saya baru tahu kalau ternyata wayang juga ada komiknya. Seingat saya penulisnya berjudul Kosasih. Buku komiknya tebal sekali. Saya menemukannya di tukang penyewaan buku yang biasa keliling kampung.

Mengikuti cerita wayang lewat lebih seru. Imajinasi kita ikut terbawa oleh bentuk ilustrasi. Penampilan wayang dengan corak kerajaan sangat membekas. Saya menyukai gambar-gambar suasana pertemuan di kerajaan.

Membuat imajinasi terbawa ke suasana kerajaan masa kuno.
Mahkota wayang juga membuat saya tergelitik. Saya melihat ada perbedaan di situ. Mahkota wayang berbentuk melengkung ke tengahnya biasanya dipakai satria-satria baik. Mereka Pandawa atau sekutunya. Wayang dengan bentuk mahkota seperti itu diantaranya Arjuna, Nakula, Sadewa, Bima, Gatotkaca dan Sanghiyang.

Ada lagi bentuk mahkota melengkung ke belakang seperti yang dipakai Yudistira atau Darmakusuma, para Kurawa dan wayang lain secara umum. Sedangkan mahkota berbentuk mengkerucut ke atas dipakai wayang kelas tinggi seperti para Batara Kresna dan Baladewa.
Saya tidak tahu apa perbedaan mahkota tersebut.

Buku Cerita Wayang
Saat di SMP saya dapati buku Ramayana di perpustakaan. Saya baca berulang kali. Bukunya mengambil metode penulisan populer. Kisahnya menitikberatkan penggempuran Kerajaan Alengka oleh Rama dan para kera. Isi buku cerita itu cukup membekas. Dari situ saya hapal banyak nama wayang epos Ramayana.

Memasuki SMA, ketertarikan saya sama Dunia Wayang belum berkurang. Saya berjumpa dengan buku tebal Mahabarata-nya karya Byasa. Halamannya ribuan. Buku terjemahan. Saya pinjam dari perpustakaan sekolah.

Buku Mahabarata berkisah tentang keluarga Kurawa dan Pandawa secara lengkap. Puas baca buku itu karena kisahnya dimulai sejak masa para leluhur Keluarga Barata.

Nonton Wayang di Televisi
Ketika TV Swasta mulai ramai, sinetron wayang India mulai populer. Dulu ANTV yang sering memutar sinetron India tentang Mahabarata dan Ramayana. Efisodenya ratusan. Panjang sekali. Sedapat mungkin saya nonton setiap efisodenya. Jam tayang-nya sekitar pukul 10 pagi. Lumayan agak merepotkan karena jam sekolah. Jadi, begitu pulang sekolah langsung nongkrong depan TV milik tetangga.

Yang paling saya ingat adalah kisah Bisma-nya. Kebetulan versi sinetron-nya sudah saya ikuti tuntas. Dari sinetron Mahabarata ANTV saya mulai kenal lebih dalam tentang Adipati Karna. Dia adalah tokoh wayang yang kemudian jadi idola saya dan selama beberapa waktu mempengaruhi cara saya berpikir tentang diri sendiri.

Pada fase ini saya mulai menyukai karakter Adipati Karna. Idola sewaktu kecil, Gatotkaca, mulai terlupakan. Ternyata dari cerita wayang di radio, buku dan tivi, karakter Gatotkaca jarang muncul. Saya pikir, Gatotkaca ternyata hanya jadi hero dalam pertunjukan wayang langsung saja.

Makna Cerita Wayang
Selepas SMA, interaksi saya dengan dunia wayang berkurang. Saya kerja dan banyak kesibukan. Hanya sesekali saja mendengar pertunjukkan wayang dari radio. Hanya saja kali ini saya tidak sekadar mengikuti jalan ceritanya ataupun mengingat para tokoh-nya. Nilai-nilai filosofis dan makna cerita wayang mulai meresap ke dalam pikiran.

Kisah-kisah wayang mulai membentuk suatu aras pemikiran baru tentang hakikat hidup dan etika kebudayaan. Itulah yang dimaksud darma hirup wawayangan : bahwa dunia wayang adalah simbol kehidupan manusia.

Setiap tokoh wayang merefresentasikan juga karakteristik manusia. Dan kisah-kisah wayang adalah rangkaian makna kehidupannya. Di masa kini, seni wayang sudah mulai ditinggalkan. Orang sudah jarang menampilkan pertunjukkan wayang. Banyak grup wayang yang bubar akibat sepi job.

Ketika Seni Wayang Mulai Ditinggalkan
Kemajuan teknologi yang sangat modern dan massif juga mempercepat ditinggalkannya seni wayang. Saya kira, generasi modern cenderung melihat wayang sebagai sesuatu yang sangat kuno, tradisional dan sama sekali kurang menarik.

Pertunjukkan wayang yang lambat, lama dan monoton juga seakan kurang cocok dengan selera jaman yang menyukai seni pertunjukkan yang cepat, praktis dan penuh vibrasi.

Saya mengenal seni wayang secara naratif. Dari mulai lewat pertunjukkan langsung, lalu melalui Koran, buku, radio dan televisi. Koneksi saya dengan seni wayang pada dasarnya menggambarkan juga koneksi tentang perubahan, yaitu perubahan teknologi.

Setiap perubahan menghantarkan saya pada pengenalan lebih spesifik dan filosofis tentang dunia wayang. Saya juga cukup terkejut mendapati perubahan karakter wayang idola di setiap fase usia dan pengalaman hidup.

Saat kecil mengagumi Gatotkaca. Jelang remaja menyukai Adipati Karna.
Perubahan kesukaan karakter wayang itu ternyata tidak semata selera seorang anak. Tapi lebih jauh lagi, bersifat filosofis.Hanya saja di era teknologi internet konektifitas saya dengan dunia wayang cenderung berkurang. Penyebabnya karena di masa kini saya sendiri mulai merasa, waktu dan konsep pertunjukkan wayang mulai susah diikuti. Mungkin karena kita sudah mulai terbiasa dengan pertunjukan modern yang disajikan internet.

Leave a Comment