Batari Janapati, Kartini dan Cellica Bupati Karawang

blank
Dalam sejarah Sunda, sebelum berkuasanya kaum menak feodalis, perempuan menempati posisi yg sangat tinggi. Sebelum kebijakan politik Orde Baru meng-hero-kan Kartini, sejarah Sunda mencatat berdasarkan tradisi lisan dan naskah Carita Parahyangan, sosok bernama Batari Hyang Janapati. Dia adalah penguasa pertama kerajaan Galunggung (Tasikmalaya) yg hidup pada abad 11 Masehi.
Luar biasanya, Batari Hyang berasal dari sebuah dinasti teokratis/ negara ketuhanan/kabataraan yg dalam paradigma modern cukup mengejutkan dimana kultur spt itu mengizinkan perempuan menjadi pemimpin, hal ini spt sama saja membayangkan Vatikan memilih paus perempuan. Jadi sebelum Orde Baru menggemakan emansipasi dan tetek bengek feminism ala Kartini lainnya, kearifan lokal kita sudah jauh melakukan lompatan jaman. Edannya, Batari Janapati memiliki visi politik yg tajam.
Sadar wilayahnya mengalami kesulitan secara geopolitik dan persaingan tajam dg kerajaan Sunda Pakuan, diapun kemudian merubah model kekuasaannya dari format Kebataraan yg tadinya hanya mengurus masalah keagamaan, jadi format Kenegaraan yg mengurus semua bidang kehidupan. Ini spt membayangkan bupati yg tadinya hanya tukang gunting pita, pemimpin senam bersama dan pemberi sambutan utama jadi sosok perpaduan Risma, Aher dan Ridwan Kamil sekaligus.
Selanjutnya, Batari Janapati juga melakukan pembangunan infrastruktur inovatif untuk wilayahnya dg membuat parit pertahanan (nyusuk na Galunggung), dan sekaligus merumuskan Perda, Perbup atau UU yg terensiklopedi dalam Kitab Karesian dg corak spiritual Ibrahimiyah, dan tidak semata kepentingan kekuasaan ala SK Wanhat kerajaan tetangga. Perkara Dunia dan Akherat masyarakat dibenahi sekaligus oleh Batari Janapati. Istilahnya yg diurus bukan cuma soal CSR, tapi juga optimalisasi pengelolaan Islamic Center, kejelasan status aset Rumah Sakit Islam, kenaikan honor guru ngazi dan ketegasan kepemilikan aset umat Islam lainnya yg bertebaran (di 30 kecamatan) dibenahi sekalian.
Keturunan Galunggung (Sukapura), sejak abad 16 banyak yg tinggal di Karawang. Sekarang, trah Galunggung-Sukapura dari garis Ngabehi Indrajaya, panglima Bupati Karawang ke II, tersebar di wilayah Pangkalan, Telagasari, Jayakerta dan Wadas. Rasanya bakal keren pisan klo Bupati Karawang sekarang yg juga perempuan mampu mengadopsi visi politik emansipasi seorang Batari Hyang Janapati daripada penulis surat asal Jepara. Persoalan Karawang tidak bisa diatasi dg pendekatan ala Kartini dimana perasaan dan ungkapan2 manis berbunga soal keprihatinan ataupun tebar janji2 indah di mimbar podium menjadi warna kepemimpinan selama 5 tahun, daripada aksi2 solusi kongkret. Bakal elok jadinya kalo Cellica tidak hanya pernah baca Habis Gelap Terbitlah Terang, tapi juga ingat rundayan karuhun tentang Batari Hyang Janapati.

Similar Posts