Babad Waringin Pitu Arya Wirasaba

blank

Waringinpitu—dalam beberapa penuturan juga disebut Bringintoeseo—merupakan salah satu lembur wiwitan yang memiliki posisi penting dalam jejak awal kesejarahan Karawang. Lembur ini diyakini didirikan pada sekitar tahun 1625–1626 oleh seorang tokoh dari Kadipaten Wirasaba, yakni Aria Surengrono. Dalam konteks politik dan keamanan masa itu, keberadaan Waringinpitu tidak dapat dilepaskan dari dinamika konflik lokal, khususnya dengan wilayah kekuasaan Banten di bawah Pangeran Nagaragan yang bermukim di daerah Udug-udug, tepat di sebelah utara kawasan tersebut. Dari Waringinpitu, Surengrono disebut terus melakukan tekanan terhadap stabilitas perkampungan Banten, memperlihatkan bahwa wilayah ini bukan sekadar permukiman biasa, melainkan memiliki fungsi strategis dalam peta kekuasaan regional.

Selama puluhan tahun, lokasi pasti Waringinpitu menjadi teka-teki dalam kajian sejarah lokal. Namun, berbagai pendekatan—mulai dari pembacaan peta kolonial Belanda, analisis ekofak, hingga kajian kesejarahan Karawang—mengarah pada satu titik yang kini dikenal sebagai Leuwi Goong di wilayah Cimahi, yang dahulu disebut Leuweng Kolambu. Identifikasi ini memperlihatkan bagaimana lanskap geografis dan toponimi lokal menyimpan lapisan ingatan sejarah yang panjang. Nama Leuwi Goong sendiri tidak secara langsung merujuk pada lembur Waringinpitu, melainkan pada sebuah lubuk di aliran Sungai Citarum yang terletak di pinggiran kawasan tersebut.

Lubuk ini hidup dalam ingatan kolektif masyarakat melalui cerita rakyat yang sarat nuansa magis. Konon, di tempat itu pernah tenggelam rombongan perahu yang membawa para seniman lokal beserta perangkat gamelannya. Sejak peristiwa itu, masyarakat sekitar sering mendengar bunyi tetabuhan goong yang misterius pada malam hari, seolah-olah gema masa lalu masih beresonansi dari dasar sungai. Cerita ini bahkan berkembang lebih jauh, ketika beberapa tahun lalu muncul kabar bahwa perangkat goong yang tenggelam tersebut telah “dikembalikan” kepada keturunan Wirasaba di Dawuan oleh tiga sosok misterius. Kisah-kisah semacam ini menunjukkan bagaimana memori sejarah, mitos, dan spiritualitas saling bertaut dalam budaya lokal Karawang.

Dalam catatan kolonial Belanda, Waringinpitu dikenal sebagai kawasan pemakaman orang-orang terhormat, meskipun tidak dijelaskan secara rinci siapa saja yang dimakamkan di sana. Sementara itu, tradisi lisan masyarakat menyebut bahwa tempat tersebut menjadi peristirahatan terakhir bagi Arya Wirasaba—bupati Karawang—bersama tokoh penting lainnya, Singaperbangsa. Perbedaan antara catatan kolonial dan tradisi lokal ini menjadi contoh bagaimana historiografi sering kali terbentuk dari berbagai perspektif yang tidak selalu sejalan, namun saling melengkapi dalam membangun pemahaman yang lebih utuh.

Nama Waringinpitu sendiri berasal dari keberadaan tujuh pohon beringin yang dahulu tumbuh di kawasan tersebut. Pohon beringin dalam kosmologi Jawa dan Sunda sering diasosiasikan dengan kekuatan, perlindungan, dan kesakralan, sehingga tidak mengherankan jika tempat ini memiliki nilai simbolik yang tinggi. Secara geografis, lokasinya sangat strategis karena diapit oleh aliran Sungai Citarum yang berfungsi sebagai jalur transportasi utama, serta dikelilingi oleh lahan datar rawa yang subur untuk persawahan sebagai sumber logistik.

Fenomena menarik terjadi ketika tujuh pohon beringin tersebut secara perlahan hilang, digantikan oleh pohon-pohon kiara yang tumbuh dari dalamnya. Menurut penuturan lokal, biji pohon kiara jatuh dan tumbuh di tubuh pohon beringin, kemudian berkembang hingga mematikan inangnya. Kini, meskipun nama Waringinpitu tetap digunakan, yang tersisa justru sekitar 25 pohon kiara besar yang menjadi penanda lanskap baru sekaligus simbol transformasi alam yang unik.

Waringinpitu akhirnya ditinggalkan setelah pusat kekuasaan Wirasaba dipindahkan ke Tanjungpura pada sekitar dekade 1640-an. Di sana didirikan perkampungan Parakansapi sebagai bagian dari strategi menghadang gerombolan perompak yang kerap mengganggu wilayah Karawang. Perpindahan ini menandai pergeseran orientasi pertahanan dan ekonomi, sekaligus mengurangi peran Waringinpitu dalam dinamika regional. Seiring waktu, nama Waringinpitu semakin tenggelam, terutama setelah terbentuknya Kadipaten Adiarsa di sekitar Ulekan Telukjambe yang kemudian mencakup wilayah Karawang bagian timur.

Dalam perspektif sejarah lokal, keberadaan Waringinpitu menunjukkan bagaimana sebuah lembur kecil dapat memainkan peran besar dalam jaringan politik, ekonomi, dan budaya. Jejaknya yang kini tersisa dalam bentuk toponimi, cerita rakyat, dan lanskap alam menjadi bukti bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk arsip tertulis, tetapi juga hidup dalam ingatan kolektif dan lingkungan sekitar. Kajian-kajian modern mengenai Karawang, termasuk yang dilakukan oleh sejarawan lokal dan peneliti budaya, semakin memperkuat pentingnya menggabungkan sumber kolonial, tradisi lisan, dan pendekatan ekologis untuk merekonstruksi masa lalu secara lebih komprehensif.

Similar Posts