Milangkala Karawang 2019 Tanpa Ruh Kebudayaan

Belajarlah pada Seren Tahun Guru Bumi. Perayaan Milangkala Karawang 2019 jika dicermati dari perspektif kebudayaan terasa berjalan seperti pola yang berulang: pawai, mancing massal, hiburan musik, dan tambahan festival goyang yang dikemas meriah.

Namun sebagian besar kegiatan tampak lebih berorientasi pada pelayanan dan hiburan bagi para pejabat daerah, sementara partisipasi komunitas lokal dan masyarakat hanya menjadi pelengkap, sekadar hadir tanpa ruang yang berarti.

Tak heran jika selepas acara, kekecewaan masyarakat kembali mencuat di media sosial, dipicu oleh pengemasan yang kurang profesional dan kesan pelayanan yang berlebihan kepada pemimpin.

Padahal, jika menengok akar sejarahnya, Karawang berkelindan kuat dengan warisan Sunda Pajajaran. Singaperbangsa pun masih terhubung dengan trah Siliwangi.

Dalam tradisi Pajajaran dikenal dua perayaan besar, yakni Seren Tahun Guru Bumi yang digelar setiap tahun dan Seren Tahun Kuwera Bakti yang berlangsung delapan tahun sekali. Seren Tahun Guru Bumi sendiri dilaksanakan pada akhir Mangsa Bakti dan memiliki pola yang jauh lebih membumi.

Pelaksanaan Seren Tahun Guru Bumi dimulai dari desa-desa, terkoordinasi hingga tingkat kecamatan, lalu mencapai puncaknya di pusat kota Pakuan dalam skala yang lebih besar. Artinya, perayaan ini hidup di seluruh wilayah, tumbuh dari masyarakat, dan bergerak secara kolektif dari bawah ke atas.

Inilah konsep kebudayaan yang menjadikan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton.

Dari sini, Milangkala Karawang seharusnya bisa belajar: bahwa perayaan bukan hanya soal kemeriahan di pusat kota, tetapi bagaimana seluruh wilayah terlibat, bagaimana masyarakat diberi ruang utama, dan bagaimana budaya dijadikan napas, bukan sekadar hiasan acara.

Leave a Comment