Para Bupati Yang Dilupakan Karawang

blank
Daftar Bupati Parakansapi – Adiarsa
1. Aria Surengrana / Wirasaba I (1633 – 1697)
Diangkat oleh Sultan Agung melalui Piagam Plat Kuning Kandang Sapi tahun 1633. Pertama datang ke Karawang tahun 1624/1625 dan bermukim di Waringinpitu, sebelum kemudian pindah ke Parakansapi dekat Tanjungpura pada tahun 1633. Meninggal tahun 1697 dan dimakamkan di Pasir Jengkol – Sangkali.
2. Nayamangala / Wirasaba II (1697 – 1738)
Tahun 1708 wilayah Parakansapi digabungkan ke wilayah Karawang, dan Nayamangala bertanggungjawab penuh kepada Panatayudha. Oleh sebab itu dalam catatan Kompeni tanggal 22 Maret 1712 disebutkan bahwa penguasa Tanjungpura itu bukan hanya Nayamangala, tapi juga Panatayudha dan Tumenggung Wirabaya. Hal ini mungkin berkaitan dengan struktur pengawasannya.
3. Ngabehi Purbanagara (1738 )
Nayamangala dikabarkan meninggal pada tanggal 6 September 1737/1738, dan digantikan oleh pamannya yang bernama Purbanagara karena anak Nayamangala masih berusia 4 tahun. Menurut berita, pengangkatan Purbanagara memicu kontroversi sehingga pemerintahannya tidak lama.
4. Suryadirana / Wirasaba III (1738 – 1774)
Tahun 1738, saudara mendiang Wirasaba yang bernama Suryadirana ditunjuk untuk memimpin dengan diawasi oleh pamannya (Purbanagara) yang sebelumnya menjabat. Suryadirana dikenal juga dengan nama Surengrana Hadiarsa (Surengrana III).
Hal itu menunjukkan bahwa pada masa Suryadirana pusat kekuasaan keluarga Wirasaba sudah berpindah dari Parakansapi ke Adiarsa. Menurut cerita dari Karawang, Nama Adiarsa yang berarti Tekad Kuat dikarenakan pada saat itu keluarga Wirasaba mengalami banyak sekali kesulitan selama tinggal di sana, tetapi mereka tetap bertahan dan dikenal sebagai orang-orang yang teguh.
5. Suryadikusuma / Wirasaba IV (1774 – 1791)
Suryadirana meninggal tahun 1774 dan sebagai penggantinya diangkat Suryadikusuma pada tanggal 2 Maret 1774, dan menyandang gelar Aria Surengrana atau Surengrana IV dengan kekuasaan meliputi Kabupaten Adiarsa.
6. Nayamangala II / Wirasaba V (1791 – 1797)
Suryadikusuma atau Aria Surengrana IV meninggal tahun 1791 dan digantikan oleh Nayamangala yang juga menyandang gelar Surengrana (Surengrana V). Tetapi Nayamangala dianggap bukan pemimpin yang baik sehingga Kompeni memutuskan pada tanggal 17 Agustus 1797 bahwa Kabupaten Adiarsa secara resmi dimasukan ke dalam wilayah Kabupaten Karawang dan kedudukannya menjadi setingkat cutak (kecamatan).
Dengan demikian pemerintahan setingkat kabupaten yang disandang keluarga Wirasaba bertahan hanya sampai tahun 1797. Menurut catatan 27 Nov 1804 hal itu disebabkan Bupati dengan keluarganya (R. 4 Januari 1805 menyebutnya Raden Ranoediwiria dan Mas Natadiwira) telah melindungi seorang penjahat yang telah mencuri barang-barang di Banyuwangi.
Tetapi keterangan lain menyebutkan bahwa pemindahan itu dilakukan karena Wirasaba V enggan tunduk kepada Kompeni.
Hal ini dapat ditelusur dalam berita dari petugas Kompeni bernama Nic Engelhard yang dalam perjalanannya ke Adiarsa pada 17 Desember 1793 menulis, bahwa penduduk Adiarsa sulit ditekan, dan punya keteguhan yang luar biasa, yang kemudian melatari lahirnya nama Adiarsa yang berarti tekad teguh.
Pada masa itu penduduk Adiarsa tidak begitu banyak dan mereka dibebani tugas untuk pemeliharaan dan pengiriman kuda dan orang guna kepentingan pos. Hal ini yang tidak disukai Wirasaba V karena dianggap membebani rakyatnya sehingga Kompeni tidak menyukainya.
Wirasaba V dan keluarganya kemudian diasingkan ke Batavia dengan biaya kehidupan sehari-harinya sebesar 25 RDS ditanggung oleh Bupati Karawang. Keluarga Wirasaba bertahan di Adiarsa sampai tahun 1839. Menurut cerita rakyat, mereka kemudian berpindah ke Karawang bagian timur dan mendirikan pemukiman bernama Dawuan (Cikampek) atau yang sering juga disebut Adiarsa Baru.

Similar Posts