Polemik Patung Kota

blank

Tidak semua pemimpin daerah mampu membangun dan menata kota dengan indah, apalagi mengadopsi kearifan lokal ke dalamnya, meskipun mereka dibekali kewenangan, aparatur, dan dukungan besar dari APBD. Dalam konteks ini, Dedi Mulyadi kerap dipandang berhasil mempercantik Purwakarta dengan sentuhan budaya yang kental, salah satunya melalui pembangunan berbagai patung di ruang-ruang publik. Namun di balik apresiasi tersebut, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana pendekatan itu benar-benar berakar pada kebudayaan Sunda?

Pembuatan patung dalam ukuran besar dan penempatannya secara luas di ruang publik sejatinya bukanlah lahir dari arus utama budaya Sunda, bahkan cenderung membingungkan jika ditinjau dari konsep kosmologi buhun. Dalam pandangan tradisional Sunda, sebagaimana tergambar dalam naskah kuno seperti Siksa Kandang Karesian, aspek keindahan dan keteraturan ruang lebih menitikberatkan pada harmoni, tata letak, dan keselarasan dengan alam, bukan pada dominasi visual berupa representasi figuratif seperti patung.

Konsep Waruga Lemah Sunda menempatkan pentingnya pengaturan lokasi sebagai inti dari kualitas ruang. Prinsip ini kemudian bertransformasi dan diadopsi dalam tata ruang kerajaan-kerajaan Islam di Tatar Sunda, yang tetap menekankan keseimbangan antara fungsi, spiritualitas, dan lingkungan. Dalam konsepsi ka-hyangan-an Sunda, patung tidak ditempatkan secara sembarangan, melainkan hanya hadir di ruang-ruang sakral tertentu seperti di kawasan Arca Domas atau di balai pamujan yang memiliki fungsi ritual.

Bentuk patung dalam tradisi Sunda pun jauh dari kesan megah dan detail sebagaimana dalam tradisi Hindu-Buddha. Ia sering kali sederhana, bahkan terkesan kasar—sekadar batu yang ditatah seperlunya. Hal ini karena patung dalam ajaran Sunda bukanlah representasi dewa atau Tuhan, melainkan lebih sebagai marga paunggahan, semacam penanda atau media pengingat spiritual. Dengan demikian, pembuatan patung bukanlah ekspresi utama dalam kebudayaan Sunda.

Lebih jauh lagi, dalam Siksa Kandang Karesian disebutkan bahwa peran juru tatah dan pengukir lebih diarahkan pada penciptaan ornamen, baik untuk bangunan maupun kain, bukan untuk membentuk patung figuratif. Ini menunjukkan bahwa estetika Sunda berkembang melalui detail, simbol, dan fungsi, bukan melalui monumentalitas bentuk.

Sebagai perbandingan historis, keindahan kota dalam tradisi Sunda justru lebih banyak diwujudkan melalui lanskap dan tata air. Kerajaan Pakuan Pajajaran dikenal dengan konsep taman dan kebun seperti Tajur Agung yang mencerminkan harmoni antara manusia dan alam. Sementara itu, sistem perairan seperti kolam-kolam di wilayah Talaga atau kanal-kanal yang telah dikenal sejak masa Tarumanagara menunjukkan kecanggihan teknologi sekaligus estetika berbasis air dalam peradaban Sunda.

Data arkeologis dan kajian sejarah juga menunjukkan bahwa masyarakat Sunda kuno memiliki keterampilan tinggi dalam pengelolaan lingkungan, termasuk irigasi dan tata ruang berbasis ekologi. Hal ini sejalan dengan temuan dalam berbagai penelitian arkeologi Jawa Barat yang menekankan bahwa peradaban lokal lebih menonjol dalam adaptasi lanskap dibandingkan pembangunan struktur monumental seperti candi atau patung besar.

Oleh karena itu, mempercantik kota ala Sunda sesungguhnya dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih kontekstual: membangun taman-taman, kebun, ruang hijau, serta menghidupkan kembali sistem air seperti kolam dan kanal. Pendekatan ini tidak hanya selaras dengan akar budaya, tetapi juga relevan dengan kebutuhan ekologis masa kini.

Dalam konteks Karawang, gagasan untuk mengikuti pola pembangunan berbasis patung tidak harus menjadi pilihan utama, bahkan ketika dikaitkan dengan figur religius seperti Syeh Kuro. Yang lebih penting adalah menggali dan menghidupkan kembali nilai-nilai lokal yang autentik, sehingga pembangunan tidak hanya menghasilkan keindahan visual, tetapi juga keberlanjutan budaya dan lingkungan.

Dengan demikian, pembangunan kota tidak semata soal estetika yang tampak, tetapi juga tentang kesetiaan pada akar budaya. Di sanalah identitas menemukan bentuknya, dan di sanalah masa depan dapat dibangun tanpa tercerabut dari masa lalu.

Similar Posts