Sumber Berita Pura Dalem
Berita tentang tentang Pura Dalem berasal dari Sedjarah Cirebon, baik melalui Nagara Kretabhumi ataupun penulisan Babad. Nagara Kretabhumi mencatat bahwa Pura Dalem merupakan salah satu wilayah yang berada di bawah kekuasaan Raja Purnawarman.
Sedangkan Purwaka Caruban Nagari menceritakan bahwa pada tahun 1416 ada seorang penyebar Islam asal Campa (Vietnam) yang disebut Seh Kuro datang ke Pura Dalem, dan mendirikan sebuah pesantren. Selanjutnya, Pura Dalem menjadi pintu gerbang penyebaran Islam ke seluruh wilayah Sunda. Santri Seh Kuro yang bernama Subang Larang menikah dengan Raden Pamanahrasa atau Sri Baduga Maharaja di Masjid Pura Dalem, dan menandai proses Islamisasi keluarga istana Pajajaran.
Dari masyarakat Karawang sendiri tidak banyak informasi yang dapat menerangkan lebih jauh tentang Pura Dalem, selain apa yang sudah diceritakan dalam Sejarah Cirebon. Berbagai penulisan sejarah dan babad Karawang yang menyebut-nyebut Pura Dalem di dalamnya, termasuk pula Buku Rintisan Sejarah Jawa Barat tahun 1983, dapat dipastikan semuanya merujuk pada Sejarah Cirebon. Sementara itu pada babad Sunda lainnya juga tidak ditemukan penyebutan Pura Dalem. Dengan minimnya referensi, serta jauhnya rentang waktu penulisan dengan peristiwanya, tentu saja menimbulkan kesulitan untuk mengetahui gambaran lebih utuh tentang Pura Dalem.
Asal – Usul Nama Pura Dalem
Berdasarkan namanya, Pura Dalem tersusun dari kata “Pura” dan “Dalem”. Pura adalah kata serapan dari sanskrit yang berarti benteng, istana, kerajaan dan kota. Sedangkan “Dalem” jika diartikan dalam bahasa Sunda kuno berarti keraton, istana, kabupaten, dan bagian dalam.
Istilah Pura populer pada masa Hindu untuk menyebut kota atau istana seperti Jayasinghapura, Sundapura atau Bakulapura. Sedangkan istilah Dalem mulai banyak digunakan sejak berkembangnya kekuasaan kerajan – kerajaan Islam di Jawa Barat, dan umumnya digunakan untuk menyebut nama diri seorang penguasa daerah seperti Dalem Cikundul, Dalem Krawang atau Dalem Kalangsu. Nama Dalem sering juga digunakan untuk menyebut nama tempat atau lokasi semisal Dalem Timur yang berarti Keraton Timur dan Pa-Dalem-an untuk menyebut kediaman bupati. Dalam Babad Pajajaran juga dikenal istilah kitha dalem yang berarti bagian dalam benteng.
Istilah Pura Dalem juga terkenal dalam tradisi Hindu, khususnya Hindu aliran Syiwa. Seperti yang sudah disampaikan di atas bahwa pada mulanya kata Pura bermakna kota atau istana. Tetapi kemudian kata Pura mengalami penyempitan makna yang berarti tempat pemujaan agama Hindu, baik pemujaan kepada para dewa maupun kepada roh leluhur. Perubahan makna ini diperkirakan mulai terjadi pada abad 11 Masehi. Sebelumnya tempat pemujaan dalam tradisi Hindu dinamakan Kahyangan sebagaimana tercantum dalam Prasasti Sukawana A I tahun 882 M . Dalam tradisi Hindu, Pura Dalem adalah salah satu tempat ibadah dalam konsep Kahyangan Tiga.
Kahyangan Tiga merupakan sebutan untuk tempat pemujaan Syiwa yang terdiri dari Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem. Konsep peribadatan ini lahir dari kepercayaan Syiwa – Budha, suatu sinkretisme ajaran Hindu – Budha yang pernah dianut salah seorang Raja Sunda bernama Sanjaya, dan mulai dikenal di wilayah Karawang ketika Sriwijaya menggeser pengaruh Taruma di wilayah barat Pulau Jawa. Salah satu bukti peninggalannya berupa arca Syiwa yang pernah ditemukan di Karawang dan tersimpan di Musium Leiden Belanda.
Dalam historigrafinya wilayah Karawang pernah menjadi pusat pertemuan agama Hindu dan Budha sekitar abad 9 Masehi. Prasasti Kota Kapur Sriwijaya dan Prasasti Pasir Muara Tarumanagara serta tulisan dalam Negarakretabhumi mengindikasikan bahwa Sriwijaya mengalahkan Tarumanagara dan membawa pengaruh Budha ke wilayah Sunda. Hal ini menjelaskan mengapa Pecandian Batujaya tidak hanya menampilkan wajah Hindu, tapi juga pengaruh Budha. Oleh sebab itu tidak mustahil jika Pura Dalem Karawang pernah menjadi salah satu pusat spiritualnya. Kemungkinan seperti ini memang bisa saja terjadi, khususnya pada fase abad 9 dan 10 Masehi. Tetapi mengingat Pura Dalem sudah dikenal sejak abad ke-4, maka teori Pura Dalem yang berarti pusat pemujaan dalam tradisi Hindu tidak memiliki dasar yang kuat, kecuali sekadar kesamaan istilah.
Raja Purnawarman tidak akan menganggap Pura Dalem sebagai wilayah bawahan jika tempat itu hanya sebuah lokasi peribadatan. Naskah Wangsakerta menerangkan bahwa dari 48 wilayah yang dikuasai Purnawarman semuanya adalah pemukiman kecil dan besar berupa pedesaan atau gabungan beberapa desa serta beberapa kerajaan kecil yang sudah mendapat pengaruh Hindu. Banyak ahli sejarah menulis bahwa masyarakat lokal, khususnya rakyat biasa, tetap setia kepada agama leluhur dan hanya segelintir elit penguasa yang menganut Hindu atau Budha. Kondisi itu terjadi dari awal Masehi hingga sekarang, dan menjelaskan mengapa di wilayah Sunda jarang ditemukan pecandian dan bangunan Hindu Budha seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kecuali di Batujaya dan Cibuaya yang notabene dekat dengan pusat kekuasaan Tarumanagara, maka wilayah pedalaman Karawang lainnya termasuk Pura Dalem tidak pernah ditemukan jejak Hindu dan Budha.
Dengan demikian kita lebih meyakini bahwa Pura Dalem hanya sebuah pemukiman biasa. Penduduknya, sebagaimana tercatat dalam berita Cina, menganut agama leluhur. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Hindu dan Budha terkonsentrasi hanya di daerah pesisir, sementara wilayah pedalaman hanya mengakui legitimasi politiknya dalam imperium Tarumanagara.
Sebagai sebuah pemukiman, Pura Dalem dihuni masyarakat asli Karawang. Nama Pura Dalem menunjukkan bahwa pemukimannya cukup besar dan kemungkinan terdiri dari beberapa perkampungan. Munculnya sebutan pura juga mengindikasikan bahwa dalam persfektif penguasa Taruma, Pura Dalem mungkin sudah dianggap sebuah kota yang memiliki kekuasaan secara politik. Oleh sebab itu Raja Purnawarman mewajibkan pemimpin Pura Dalem untuk memberikan upeti setiap tahunnya ke Tarumanagara. Pemimpin Pura Dalem seperti halnya pemimpin pribumi lainnya, tidak dinamakan raja atau rajendra melainkan disebut Penghulu.
Sebutan raja pada masa itu hanya dikenal di wilayah yang menjadi pusat kekuasaan politik para pendatang India seperti di Sundapura dan Rajatapura. Di Bakulapura saja berdasarkan tulisan pada prasasti Kutai, penghulu desa bernama Kudungga disebut narendra, dan kemudian menantunya yang bernama Aswawarman dinamakan Vansakar atau pendiri dinasti, dan barulah penguasa ketiga yaitu Mulawarman dinyatakan sebagai rajendra (lord of king). Hal itu dikarenakan kekuasaan politik sudah sepenuhnya berada di tangan penguasa dari India sehingga penerapan bahasa, budaya, dan agama lebih leluasa dilakukan termasuk penyebutan raja untuk pemimpinnya seperti halnya kebiasaan di negara asal.
Masyarakat Pura Dalem sangat menjunjung budaya gotong – royong. Jika mereka membangun rumah maka akan dikerjakan bersama – sama. Begitu juga kalau melakukan tebas hutan atau ngababad dilakukan secara gotong – royong. Semua tiang rumah – rumahnya terbuat dari betung sedangkan atapnya dari dedaunan dan rumput – rumputan.
Rumah – rumahnya memiliki kaki atau yang disebut Rumah Panggung. Di bawah rumahnya dijadikan kandang untuk hewan peliharaan. Rumahnya besar – besar dan satu rumah biasanya dihuni oleh banyak orang yang masih dalam ikatan kekerabatan. Kehidupan ekonomi mereka seperti juga masyarakat lainnya adalah berburu di hutan dan gunung, menangkap ikan di tengah laut dan sepanjang pantai dan sungai, memelihara hewan ternak dan juga bertani Adapun keyakinannya berupa pemujaan terhadap matahari, batu, pepohonan besar, sungai dan roh leluhur. Orang – orang Taruma mengajarkan sanghyang agama kepada masyarakat setempat dengan cara merubah nama – nama dewa ke dalam kosmologi lokal dan menciptakan akulturasi teologi antara agama Hindu dengan agama pribumi supaya ajaran Hindu bisa diterima.
Naskah Wangsakerta secara jujur memberitahukan bahwa para pendatang dari India memiliki pengetahuan tinggi sehingga mereka bisa mendirikan kerajaan besar di Pulau Jawa dan menguasai banyak wilayah. Adapun penduduk lokal seperti Pura Dalem sering digambarkan oleh para penulis sejarah asing sebagai masyarakat prahistori yang hanya mengenal budaya berburu dan meramu. Mereka digambarkan baru mengenal peradaban setelah bersentuhan dengan kebudayaan India. Tapi sebelum kedatangan para pendatang, Ahli bumi Romawi, Pomponius Mela mencatat bahwa ketika wilayah timur dan Amazon sangat kental dengan mitologi, hewan-hewan aneh dan orang – orang tanpa kepala maka penduduk nusantara justru terkenal dengan teknologi produksi emas dan peraknya.
Dan jika hipotesa Ko-ying adalah Karawang dibenarkan maka berarti sejak awal Masehi masyarakat lokal sudah akrab dengan dunia perdagangan yang kompleks, astronomi, navigasi, teknik pembuatan kapal, dan ragam pengetahuan lainnya, termasuk kesenian.
Cerita rakyat menyebutkan bahwa masyarakat Pura Dalem sudah mengenal kesenian yang sekarang disebut ajeng. Pada masa lalu kesenian ini memiliki fungsi untuk mengabarkan kedatangan tamu. Peralatannya hanya goong kuningan saja dan dimainkannya cukup dipukul dari tempat yang tinggi supaya terdengar kemana-mana. Meskipun belum pernah ada penelitian tentang sejarahnya, tetapi seniman ajeng masa kini meyakini bahwa seni ajeng sudah ada sejak jaman Tarumanagara. Konon, para biksu yang sering mengunjungi pecandian Batujaya juga menyadari adanya ikatan emosional dengan seni ajeng yang membuat mereka mengalami perasaan déjà vu.
Lokasi Pura Dalem
Nama Pura Dalem Karawang adalah sebutan untuk sebuah pemukiman pada jaman dulu yang lokasinya berada di wilayah Kabupaten Karawang. Berdasarkan namanya, Pura Dalem diperkirakan berada di wilayah pedalaman. Hal itu diperkuat dalam Babad Cirebon yang menceritakan bahwa ketika Seh Kuro datang ke Pura Dalem Karawang, rombongannya menempuh jalan melalui perahu lewat Muara Citarum, dan selanjutnya menyusuri sungai hingga kemudian berhenti di Pura Dalem. Dan berdasarkan historigrafi Sejarah Karawang, lokasi Pura Dalem diperkirakan berada di wilayah Tanjung Pura sekarang.
Adapun pendapat yang mengatakan Pura Dalem berada di Kampung Bunut Alun – alun Karawang didasari penafsiran secara parsial terhadap tulisan Babad Cirebon dan masjid agung Karawang. Informasi lebih jelas tentang lokasi Pura Dalem akan kita bahas pada paparan terpisah yang menyangkut Sejarah Tanjung Pura.
Wilayah Pura Dalem meliputi Tanjung Pura, sebagian Karawang Selatan, pedalaman Karawang Timur dan daerah Telukjambe. Di utara wilayahnya berbatasan dengan Tarumanagara, Sagara Pasir, dan Tanjung Camara, di timur berbatasan dengan Karang Sindulang, di selatan dengan Kuta Tambaga dan di barat dengan Cupunagara. Pura Dalem berada di bawah kekuasaan Tarumanagara dari abad 4 sampai abad 7.
Dalam catatan sejarah dinasti Tang, utusan terakhir Taruma datang pada tahun 669. Selanjutnya tidak ada lagi utusan Taruma datang ke Cina. Hal itu kemudian menimbulkan dugaan bahwa pada abad 8 M Tarumanagara sudah hilang dan wilayahnya dikuasai Sriwijaya. Memasuki abad 9 sampai 10 wilayah Karawang berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Pada masa kekuasaan Sriwijaya di percandian Batujaya dilakukan lagi pembangunan candi, dan karena Sriwijaya penganut Budha maka candi yang dibangunnya banyak menampilkan karakter Budha, seperti misalnya di Candi Blandongan. Hanya saja tidak banyak data sejarah yang bisa menceritakan penguasaan Jawa Barat oleh Sriwijaya.
Masalah ini masih menjadi polemik karena hanya berdasarkan tafsiran terhadap Prasasti Kota Kapur dan Prasasti Pasir Muara. Kedua prasasti tersebut secara samar mengindikasikan upaya dan jejak penguasaan Sriwijaya terhadap Taruma. Naskah Wangsakerta juga sempat menyinggung masalah ini dengan menyatakan jika Sriwijaya pernah menguasai wilayah pesisir Jawa Barat.
Disebabkan informasi tentang Pura Dalem sangat terbatas sekali, maka kita tidak bisa berharap banyak untuk mengetahui lebih utuh mengenai wilayah tersebut. Pura Dalem hanya dianggap ada pada saat Karawang berada di bawah kekuasaan Tarumanagara. Pada masa kerajaan Galuh – Pakuan nama Pura Dalem sudah hilang dan sebagai gantinya munculah nama Tanjung Pura.