Karawang pernah dianggap sebagai Tanah Jawara, sebuah wilayah sangar dimana dalam sejarahnya perempuan belum pernah jadi pemimpin, dan kaum lelaki kemanapun pergi tak pernah lepas dari yang namanya bedog.
Meskipun tingkat atas masyarakat dikuasai para menak dan sentana tetapi hutan-hutan, rawa dan pegunungan Karawang adalah kekuasaan para jawara.
Mereka tak mempan oleh surat rekomendasi ningrat, tidak juga gentar oleh pelor kompeni. Mereka menghadapi muslihat para menak dengan elmu semu gunting, kadang lembu sakilan dan brajamusti.
Tapi seringnya dengan tebasan Bedog Lubuk. Sehingga untuk menghadapi mereka, para demang, cutak dan kandurupun menyewa jawara lagi yang disebut Golek Beureum.
Dalam arsip VOC pun Karawang disebut daerah yang tidak aman bagi mereka, utamanya dalam Periode Tegalwaru Landen.
Salah satu penyebab “darah panas”, dan “gede wawanen” rakyat Karawang konon karena perbawa Golok Karawang yang disebut Bedog Lubuk atau Bedog Turun Ujung.
Para orang tua yang berhasil ditemui sama-sama menuturkan bahwa manakala memegang Bedok Lubuk maka otomatis keberanian mereka jadi berkali lipat. Beda saat pegang pakarang lainnya seperti keris, kujang ataupun tombak.
Dan pengaruh emosional semacam itulah yg kiranya menjadi dasar ikatan sakral para leluhur Karawang dengan Bedog Lubuk, sehingga para perintis Kabupatenpun menjadikan Bedok Lubuk sbg salah satu elemen dalam Logo Kota Karawang.
Ironisnya, sekarang ini keberadaan Bedog Lubuk sudah sangat jarang di Karawang.
Berdasarkan penelusuran, Bedok Lubuk memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dg bedog2 lainnya termasuk dg bedog Salam nunggal. Punggung bedog ini lurus dan melingkar seperapat di bagian ujung tajamnya sehingga bedog ini sering juga disebut Bedog Turun Ujung. Sedangkan paksi atau ujung bawah bedog terbungkus perah (gagang) dengan jarak yg cukup pendek antara ujung paksi dengan pucuk perah.
Di lapangan memang ditemukan banyak variasi, tetapi para orang tua biasanya bisa dg mudah membedakan mana yg bedog Lubuk dan mana yg merupakan bedog biasa. Selain itu sepertinya ada satu dua variasi gaya dalam coraknya.
Bentuk turun ujung bedog itu yg kemudan melahirkan nilai filosofisnya Bedog Lubuk seperti padi merunduk, yg diartikan makin berisi makin merendah g dalam tinjauan sosiologis, katanya persis karakter masyarakat Karawang tempo dulu.
Bedog Lubuk menjadi pegangan sehari-hari rakyat. Sedangkan Bedog Lubuk Pusaka hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu dan fungsinya hanya sebatas simbol.
Bedog Lubuk Pusaka disebutnya GOLOK, dan BUKAN bedog. Hal ini dipertegas juga oleh naskah kuna Siksa Kandang Karesian. Ukuran Golok Lubuk Pusaka hampir tiga kali lipat Bedog Lubuk biasa sehingga hanya bisa dibawa dengan cara dipanggul di bahu.
Dalam mitosnya, Bedog Lubuk Karawang ini dibuat di Era Lemah Sagandu, yaitu suatu masa kuno ketika yg namanya logam, besi dan lainnya masih begitu lunak sehingga mudah dibuat apa saja dg tangan.
Uniknya banyak para orang tua Karawang yg sepakat jika Bedog Lubuk Karawang ini dibuatnya tidak dengan metode tempa (penempaan, dipukul-pukul pakai palu), tapi pakai metode emple (dibentuk pakai tangan langsung).
Dan satu tempat pembuatan peralatannya yg baru ditemukan terdapat di puncak Sanggabuana, tepatnya di Pandai Domas Kebon Jambe yg diperkirakan sudah ada sejak abad 9 M.
Sementara sebuah kampung tua di pinggiran Sungai Cilamaya yg disebut sebagai Kampung Jawara, berdasarkan tuturan para orang tua merupakan tempat berkumpulnya para jawara sejak era Syeh Quro dan Sri Baduga.
Eksistensi Bedog Lubuk bagi generasi sekarang salah satunya merupakan suatu pengingat bahwa Karawang adalah Tanah Para Jawara. Tidak seharusnya kita KEOK di kandang sendiri.
