Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di Desa Cimahi, Kecamatan Klari, pada 4 November 2019. Hari itu, komunitas Karawang Heritage menggelar sarasehan budaya yang mempertemukan pemerintah desa, masyarakat setempat, hingga para penggiat budaya dalam satu ruang dialog yang sarat makna.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif tentang sejarah lokal yang kian jarang disuarakan.
Dalam sarasehan tersebut, perhatian tertuju pada bedah kesejarahan Kampung Waringinpitu, sebuah kampung tua yang diyakini sebagai peninggalan Arya Wirasaba. Menurut Karawang Heritage, lokasi kampung bersejarah itu berada di kawasan Leuwi Goong, Desa Cimahi.
Waringinpitu sendiri dikenal sebagai basis pertahanan yang dibangun pada tahun 1625 oleh Arya Wirasaba atas perintah Sultan Agung, sebagai bagian dari upaya mengamankan wilayah Karawang dari ancaman Banten pada masa itu. Jejak sejarah ini menjadi pengingat bahwa wilayah Karawang pernah memegang peranan strategis dalam dinamika politik dan militer di tanah Jawa.
Kegiatan berlangsung dengan penuh antusiasme. Warga yang hadir tampak larut dalam cerita-cerita masa lalu yang disampaikan, seolah diajak kembali menelusuri jejak para leluhur yang pernah berjuang di tanah mereka.
Pemerintah desa pun menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah konkret dalam menggali dan menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah lokal.
Pada momen tersebut, Asep R. Sundapura selaku Ketua Karawang Heritage secara simbolis menyerahkan piagam penetapan Desa Cimahi sebagai kampung sejarah kepada kepala desa. Penyerahan ini menjadi penanda penting sekaligus bentuk apresiasi terhadap potensi sejarah yang dimiliki wilayah tersebut.
Dalam pernyataannya, Asep R. Sundapura menyampaikan bahwa penetapan ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah awal untuk membangun kesadaran bersama. “Kami berharap penetapan ini menjadi pemicu bagi masyarakat untuk lebih mengenal, menjaga, dan merawat sejarahnya sendiri.
Cimahi memiliki jejak penting, dan itu adalah kekuatan yang bisa menginspirasi lahirnya destinasi wisata berbasis sejarah yang berakar pada identitas lokal,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa pelestarian sejarah bukan hanya tanggung jawab komunitas atau pemerintah semata, melainkan juga menjadi bagian dari peran masyarakat. Dengan mengenali sejarahnya, masyarakat diharapkan dapat membangun rasa memiliki yang lebih kuat terhadap lingkungannya.
Sarasehan budaya ini pun ditutup dengan harapan sederhana namun bermakna: agar kisah-kisah lama tidak hilang ditelan zaman, melainkan terus hidup, diceritakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari jati diri Karawang.
