Jejak Pahit Palawaga Sunda

Dalam tradisi pantun, diceritakan bahwa setelah runtuhnya Pajajaran, sebagian prajurit dari Banten dan Demak tidak kembali ke daerah asalnya. Mereka kemudian mendirikan perkampungan di bekas wilayah Pajajaran, hidup berdampingan dengan sisa-sisa hulun atau rakyat Pajajaran.

Pertemuan dua kelompok ini bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan juga pertemuan batin yang membawa benturan psikologis, budaya, dan tradisi. Dua latar belakang yang berbeda saling berhadapan, mencoba mencari ruang hidup bersama di tanah yang sama.

Perbedaan agama memang pada akhirnya dapat dijembatani oleh bekas hulun Pajajaran melalui kearifan yang dikenal sebagai “Balayar di Dua Parahu.” Sebuah cara pandang yang lentur, yang memungkinkan kehidupan berjalan tanpa harus saling meniadakan.

Namun, penyelesaian itu tidak sepenuhnya menghapus sekat-sekat yang sudah terlanjur terbentuk. Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan tetap terasa, baik dalam cara berpikir, kebiasaan, maupun cara memandang dunia.

Sebagaimana lazimnya dalam sejarah manusia, pihak yang menang cenderung memiliki dominasi. Banten dan Demak, sebagai kelompok pemenang, memegang pengaruh dalam berbagai aspek kehidupan.

Sementara itu, kelompok yang kalah harus beradaptasi, sering kali dalam posisi yang tidak setara. Dalam tradisi pantun Disaeuna Talaga Maya bahkan diceritakan bahwa bekas hulun Pajajaran disebut sebagai Bangsa Palawaga atau Bangsa Kera. Sebuah sebutan yang jelas mengandung penghinaan, mencerminkan bagaimana kekuasaan dapat membentuk narasi dan identitas sosial.

Hal seperti ini bukanlah sesuatu yang asing dalam perjalanan peradaban manusia. Pemenang sering kali memiliki kebebasan untuk menafsirkan sejarah sesuai kepentingannya. Sementara yang kalah harus menanggung luka, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam harga diri dan ingatan kolektif.

Menjadi bangsa yang kalah memang menyakitkan. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa kebangkitan selalu mungkin terjadi.

Salah satu jalan tercepat menuju kebangkitan adalah melalui kekuasaan—bukan semata-mata kekuasaan politik, tetapi juga kekuasaan atas identitas, budaya, dan cara memandang diri sendiri.

Karena itu, ketika berbicara tentang upaya menghidupkan kembali marwah peradaban Sunda, yang dibutuhkan bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai kasundaan.

Memilih pemimpin atau tokoh yang memiliki kesadaran dan keberpihakan pada jati diri daerah menjadi penting, bukan untuk menutup diri, tetapi untuk berdiri sejajar dengan identitas yang utuh dan bermartabat.

Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana sebuah masyarakat belajar berdamai dengan sejarahnya, merawat lukanya, dan perlahan bangkit dengan cara yang lebih manusiawi.

Leave a Comment