Membaca Lagi Pengetahuan Kabuyutan Sunda

Kabuyutan pada mulanya berakar pada pembelajaran dan pengetahuan. Di sanalah letak kesakralannya: bukan pada hal-hal yang tak tersentuh akal, melainkan pada kedalaman ilmu yang diwariskan dan dirawat dengan penuh kesadaran. Pengetahuan menjadi fondasi yang menghidupi nilai-nilai, membimbing laku, sekaligus menjadi jembatan antara manusia dengan alam dan kehidupan itu sendiri.

Namun seiring perjalanan waktu, pemaknaan itu perlahan mengalami pergeseran. Yang semula bertumpu pada pengetahuan, bergeser menjadi sesuatu yang dianggap keramat, bahkan kerap dipahami sebagai klenik. Sakralitas yang dulu berakar pada proses belajar dan pemahaman, kini sering kali dipindahkan ke wilayah spiritualisme yang tidak selalu dipahami secara utuh. Dalam pergeseran itu, ada jarak yang tercipta—antara makna asli yang rasional dengan tafsir baru yang cenderung mistis.

Padahal, dalam narasi kebudayaan, sebagaimana dituturkan oleh para karuhun melalui tradisi pantun, pengetahuan selalu menjadi pusat. Kebudayaan tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari proses panjang pengamatan, pengalaman, dan perenungan. Ia mengajak manusia untuk memahami, bukan sekadar mempercayai. Di situlah letak keluhuran tradisi: pada kemampuannya membuka ruang tafsir yang berlandaskan akal sekaligus rasa.

Dalam konteks itu, hal-hal seperti sasajen sejatinya bukanlah sesuatu yang berdiri di luar logika. Ia dapat ditelusuri maknanya, dipahami fungsinya, dan dijelaskan melalui pendekatan pengetahuan. Sasajen adalah simbol, bahasa kultural yang merekam hubungan manusia dengan lingkungannya—tentang rasa syukur, penghormatan, dan kesadaran akan keterhubungan. Ketika dipahami secara utuh, ia tidak lagi menjadi sesuatu yang gelap atau menakutkan, melainkan terang sebagai bagian dari sistem makna yang hidup.

Jika pemahaman terhadap kebudayaan terus terjebak dalam tafsir transendental yang keliru, maka jarak antara generasi akan semakin lebar. Tradisi akan terasa asing, bahkan sulit didekati. Padahal, dengan mengembalikannya pada ruh pengetahuan, kebudayaan justru menjadi jembatan yang hangat—menghubungkan masa lalu dengan masa kini, serta membuka kemungkinan untuk masa depan.

Di sanalah pentingnya merawat narasi kebudayaan secara jernih dan manusiawi. Bukan dengan menanggalkan nilai spiritualnya, melainkan dengan menempatkannya dalam kerangka yang utuh, seimbang antara rasa dan nalar. Dengan begitu, kita tidak hanya mewarisi bentuk, tetapi juga memahami isi; tidak hanya menjaga simbol, tetapi juga menghidupkan makna.

Leave a Comment