Arabisme dan Sundaisme

Saya kira, Arabisme dan Sundaisme adalah sebuah poros peradaban yang setaraf dan seimbang, dalam arti yang satu tidak lebih tinggi dari yang lainnya. Tetapi karena Arabisme melekat juga dengan konsep keyakinan spiritual yang luar biasa yakni Islam, sehingga muncul gambaran Arabisme dinilai lebih mulia karena memang terangkat oleh Kemuliaan Islam.
Sedangkan Sundaisme karena secara tipikal masyarakat pendukungnya hanya dominan di masa lalu, meski di masa sekarang secara populasi masih bejibun, maka Sundaisme dianggap identik dengan sesuatu yang tradisional, buhun atau bahkan kuno. Kedua persepsi ini nantinya akan melahirkan cara pandang dan pola perilaku yang berbeda tajam pada orang Sunda misalnya soal pemilihan nama anak dan sikap terhadap budaya. Misal, seseorang akan menganggap nama Daffa Rashidi lebih “suci” dibanding Niskala Larang. Atau, ada orang yang menganggap pakaian pangsi serba hitam sebagai sesuatu yg mendekati kekafiran sedang jubah warna putih mendekati kesalehan. Ikeut cenderung negative, sorban cenderung positif.
Kosmologi Arabisme lahir dari sebuah lingkungan yang lapang, sederhana dan megah berupa padang pasir dan langit yang melompong. Dengan demikian system keyakinan Arabisme Purba cenderung lebih sederhana. Hal ini berbeda dengan Sundaisme, dimana mereka lahir dari sebuah lingkungan yang padat, kompleks dan setiap sudutnya menimbulkan kekhasan karena di sebuah lokasi tidak hanya ada batu besar, tapi juga pohon, goa, sungai, tanah tinggi, jurang dan lain sebagainya. Kondisi lingkungan seperti itu yang berpengaruh pada alam kebatinan Sundais sehingga orang Sunda mengembangkan konsepsi kosmologi yang rumit.
Saat melihat goa menyeramkan mereka mereka berpikir tentang makhluk menakutkan. Ketika berada di atas gunung mereka meresapi adanya kekuatan agung alam semesta. Dan manakala mereka berjumpa sungai dengan airnya yang mengalir tenang tapi menakutkan muncullah gagasan tentang makhluk-makhluk penguasa sungai. Begitu juga saat meresapi proses perkembangan padi yang mereka tanam, muncul kesadaran batiniah di dalamnya yang melahirkan mitos-mitos tentang Pohaci, Udugbasu, atau Gumarang.
Dengan adanya konsepsi kosmologi yg begitu rumit dan beragam maka tidak heran jika dalam budaya Sundapun lahir bukan hanya makhluk-makluk gaib beraneka nama, tapi juga melahirkan seperangkat pranata adat yang bervariasi seperti Nyalin, Hajat Bumi, Ngawin Cai, Sajen, Ruwat Alam, dan masih banyak lagi sesuai latar belakang lingkungannya.
Keragaman pola budaya seperti ini yang tidak ditemukan dalam khazanah Arabisme sehingga pada sebagian muslim di Sunda yang jauh dari Sundaisme dan dekat dengan Arabisme lahir sikap anti budaya, ketat dan keras – yang menurut saya belum tentu lahir dari ajaran wahyu, melainkan bisa jadi dari sudut pandang budaya Arabisme yang dikaitkan dengan tafsir keagamaan. Wallahu`alam.
.
Meski demikian kita tidak lantas menafikan keistimewaan Arabisme, karena diantara sekian banyak bangsa-bangsa di dunia ternyata Allah memilih Bangsa Arab sebagai penerima Risalah Islam, termasuk penggunaan bahasanya. Hal itu menunjukkan adanya keistimewaan pada Bangsa Arab. Adapun soal-soal menyangkut kehidupan sosial kita percaya Islam menghargai khazanah lokal termasuk penggunaan jenis pakaian dan pranata adat positif sesuai alam lingkungannya.
Saya kira, Universalisme Islam (Al-Alamiyah) adalah tentang Kesatuan Akidah bahwa Islam itu bukan hanya untuk satu bangsa/ golongan saja, tetapi untuk semua. Tetapi hal itu bukan berarti Penyatuan Budaya atas nama kemurnian agama. Hal ini saya kira penting untuk dipahami karena dalam komunitas Sunda banyak ditemukan : Sundais alergi Arabis atau Arabis anti Sundais. Kedudukan Islam sebagai Agama Pertengahan (al-wassath, atau dalam khazanah Sunda dikenal Sigeur Tengah) bukan hanya soal tentang peribadatan, tapi juga menyangkut pola pandang terhadap kebudayaan (moderasi).
Tulisan ini bukan berniat membandingkan antara Arab dengan Sunda, melainkan anggap saja sekedar “Halaqoh Budaya” untuk mengurangi spirit of nyinyir diantara sesama Sunda, dan untuk menghargai perbedaan budaya diantara bangsa-bangsa mengingat Sunda bukan sekadar suku dan Bahasa, tapi juga bangsa dan peradaban serta Arab meski bukan Islam, tetapi Islam tak bisa lepas dari Arab.

Leave a Comment