Nama Pajajaran itu agung. Bukan Cuma nama identitas institusi politik orang Sunda pada masa lampau. Tapi juga memiliki arti penting untuk menyingkap gambaran politik dan pandangan nilai para leluhur Sunda.
Para ahli sudah menafsirkan banyak arti tentang nama Pajajaran, salah satunya yaitu istana yang berjajar. Tradisi pantun bicara lebih luas. Yang sejajar itu bukan istana, tapi kedudukan atau status kerajaan-kerajaan inti yang pada masa itu ada di Tanah Sunda.
Jika Tarumanagara menggunakan pola sentralistik dalam pemerintahannya, maka Nagara Sunda memiliki pendekatan lain. Secara internal, Nagara Sunda sebagaimana diungkap Prof. Ekadjati menerapkan konsep federasi dimana terdapat menjadi kerajaan induk yang memnbawahi banyak wilayah bawahan. Wilayah bahwahan itu mandiri tetapi berada dalam perlindungan kerajaan induk. Sebagai gantinya ada yang namanya upeti untuk perlindungan.
Sedangkan secara eksternal atau hubungan luar, jauh sebelum Majapahit menerapkan konsep mitrekasatata (sekutu sejajar) maka Kerajaan Sunda sudah jauh lebih dulu memakai pendekatan koalisi politik sejajar dalam pemerintahannya.
Dan konsep politik bahwa setiap kerajaan di Tanah Sunda itu kedudukannya sejajarlah yang kemudian menjadi awal mula penyebutan nama Pajajaran/ Peudjeuh jajaran (pangjeujeuh : pesan, jajaran : sejajar).
Tidak ada satu kerajaan lebih besar dan berkuasa dibanding lainnya. Tidak perlu ada permusuhan dan perang. Semuanya sejajar karena pada mulanya mereka adalah satu turunan Rundayan Karuhun Sunda.
Kenapa harus sejajar? Karena sebelumnya Tanah Sunda diwarnai banyak peperangan akibat dijadikannya nama Sunda sebagai nama kerajaan. Hal ini barangkali bisa kita telusur pada informasi Carita Parahyangan tentang Tarusbawa dan Wretikandayun. Oleh karena itu perlu ada rekonsiliasi.
Mereka menyadari bahwa permusuhan sesama saudara itu tidak berfaedah sama sekali. Pesan dalam Naskah Amanat Galunggung bahwa kabuyutan yang direbut itu lebih menghinakan termasuk direbut oleh Sunda menunjukkan bukan hanya pentingnya status Kabuyutan, tapi juga menyingkap adanya sisi permusuhan tersebut.
Tajamnya permusuhan ini yang barangkali tergambar dalam petualangan Maharaja Sanjaya. Akhirnya lahirlah konsesus politik di Tanah Sunda bahwa semua institusi politiknya harus damai dan sejajar. Kerajaan Sunda mana saja yang harus disejajarkan? Pada mulanya Galuh dan Pakuan. Ke sininya ditambah Cirebon dan Banten. Dari situ populerlah penyebutan nama Pajajaran.
