Tugu Blenong Tanjungpura

Setiap kali melintas di Tanjungpura, rasanya ingin mengelus dada. Sebuah tugu berdiri dengan biaya yang tentu tidak kecil—mungkin mencapai puluhan juta—namun sulit menangkap apa sebenarnya manfaat yang ingin disampaikan.

Dari sisi fungsi, estetika, edukasi, bahkan nilai kearifan lokal, tidak banyak yang bisa dirasakan. Letaknya pun terasa kurang tepat, sebab di kawasan tersebut sudah berdiri Tugu Udang yang lebih dulu hadir sebagai penanda.

Padahal, jika berbicara tentang Tanjungpura dan Karawang secara keseluruhan, begitu banyak simbol yang lebih kuat, lebih hidup, dan lebih dekat dengan identitas masyarakatnya. Bayangkan jika yang dibangun adalah tugu kendang atau jaipong, sebagai representasi Bah Suwanda yang menjadi bagian penting dalam perkembangan seni tradisional.

Atau tugu tunggak jati yang mengingatkan pada sejarah panjang perkayuan Karawang di era Wirasaba. Bisa juga tugu perjuangan, yang merekam jejak penting Revolusi Karawang-Bekasi 1945, sebuah episode sejarah yang tidak seharusnya dilupakan.

Ada pula sosok dan peristiwa lain yang tak kalah bermakna, seperti Tugu Manikam Quro yang merepresentasikan kedatangan Syeh Quro ke Tanjungpura pada tahun 1418, membawa nilai spiritual dan sejarah panjang penyebaran agama. Atau Tugu Bakula yang bisa menjadi simbol kekayaan ekologi Karawang, sesuatu yang semakin hari justru semakin tergerus.

Karawang bukanlah ruang kosong tanpa cerita. Ia kaya akan sejarah, budaya, dan identitas yang kuat. Banyak seniman dan budayawan lokal yang sebenarnya bisa diajak berdialog, dimintai pandangan, dan dilibatkan dalam merancang simbol-simbol ruang publik yang lebih bermakna.

Karena pada akhirnya, sebuah tugu bukan sekadar bangunan fisik, tetapi juga cermin dari cara kita menghargai sejarah, merawat budaya, dan menyampaikan jati diri kepada generasi yang akan datang.

Jangan sampai kesan yang muncul justru sebaliknya, seolah-olah Urang Karawang hanya dikenal sebagai tukang tandur semata. Padahal di balik itu, ada kekayaan nilai yang jauh lebih luas, yang seharusnya bisa dihadirkan dengan lebih bijak, lebih tepat, dan lebih membumi.

Leave a Comment