Sunda Bangsa Yang Terluka

Jujur saja ….. Orang Sunda enam – lima generasi terakhir sudah cukup akut mengalami perasaan inferioritas di sepanjang ingatan sejarahnya.

Saat mereka menengok eksistensinya sebagai sebuah Masyarakat Besar, sedikit saja kebanggan yang tersisa. Selebihnya ada luka, kepedihan, perasaan tidak berdaya atau keraguan.

Bagaimana tidak jika ingatan sejarah yang tersusun adalah kisah-kisah dikuasainya mereka oleh Mataram, Tragedi Bubat, peluluhlantakkan perlawanan Dipati Ukur, hancurnya Pajajaran yang juga berdampak pada adanya perasaan penindasan secara spiritual dan politik, dan rasa terluka itu berlanjut dengan runtuhnya kemerdekaan politik di masa VOC dan terakhir hilangnya bahasa dan kebudayaan mereka.

Timbul rasa pada Orang Sunda bahwa mereka seolah bangsa yang tidak berdaya, jauh dari kategori Bangsa petarung yang gagah dan menjadi golongan nomor dua. Perasaan seperti itu dahulu dialami oleh generasi tua termasuk masa VOC sehingga penulis Belanda menuturkan bahwa orang Sunda suka terkesan sedih dan sering mengenang tanah airnya yang hilang (Pajajaran).

Sedangkan generasi modern “menutupi” gumpalan “rasa rapuhnya” dengan banyak mengungkit kebesaran Siliwangi dan Pajajaran. Sebuah usaha yang mulia, meskipun cenderung menyerupai pengobatan batin sementara karena secara obyektif marwah kebanggaan Kesejarahan Sunda belum diakui secara luas dan massif seperti halnya kebesaran Majapahit dan Sriwijaya.

Perasaan terluka seperti itu yang kemudian memicu semangat menggali kesejarahan Bangsa Sunda pada era modern, termasuk harapannya memiliki presiden berdarah Sunda yang dianggap sebagai akan melahirkan kebanggaan bahwa orang Sunda itu bukan Bangsa yang lemah dan dibawah dominasi kelompok lain.

Kita bisa bayangkan betapa panjangnya penderitaan psikologis Orang Sunda sampai akhirnya mereka melahirkan konsepsi tentang Budak Angon, yang entah bagaimana dinilai akan mampu membangkitkan kebesaran mereka.

Kerinduan bahwa sebenarnya mereka adalah Bangsa yang Tangguh tercermin dari tingginya keterkejutan banyak orang Sunda terkait Prasasti Horen dimana Orang Sunda ternyata “bisa” juga jadi bangsa penyerbu yang mampu meluluhlantakkan wilayah lawan.

Itu sebabnya selama kebesaran Sunda belum diakui secara luas dan nyata, maka memori Orang Sunda niscaya akan selalu terkenang pada masa lalu, belum pada masa depan.

Leave a Comment