Mitos Karawang Dipegang Perempuan

Di kaki sebuah bukit kecil di gigir Cibeet—yang dahulu dikenal dengan sebutan Jagasatru—pernah terucap sebuah cacandran yang terus bergaung hingga kini: Nu nyeukeul Karawang mah awewe—Karawang itu dipegang oleh perempuan. Ungkapan ini bukan sekadar bisikan masa lalu, melainkan keyakinan yang hidup di tengah masyarakat, diwariskan dari para kolot lembur dengan ragam redaksi yang berbeda, namun ruhnya tetap sama.

Ada yang menyebut Karawang sebagai Ibu, sementara Purwakarta adalah Bapa dan Subang adalah Anak. Di lereng Pegunungan Sanggabuana, orang-orang tua menuturkan bahwa Karawang adalah Indung. Sebagai indung, ia memeluk dengan sifat tumarima, welas asih, dan ngelehan—lembut tapi menguatkan, sabar tapi menentukan arah. Dalam bayang-bayang kearifan itu, terselip pula harapan tentang hadirnya Ratu Pinilih, sosok perempuan pilihan yang kelak membawa kemajuan bagi tanah ini.

Menariknya, cacandran ini tidak berdiri sendiri. Jejak sejarah Karawang pun seolah mengamini. Nama-nama seperti Mayang Sagara, Bungsu Rarang, Subang Karancang, Nyi Patemuan, hingga Bupati Ayu hadir sebagai bukti bahwa perempuan bukan hanya pelengkap, melainkan penentu arah. Bahkan sebagai lumbung padi, Karawang pun tak lepas dari simbol kesuburan yang diwakili oleh Ambu Pohaci—figur perempuan yang menghidupi.

Di tanah ini, perempuan tidak sekadar hadir, tetapi dipercaya. Ada kedekatan batin antara masyarakat Karawang dan sosok perempuan sebagai pemimpin. Barangkali itu sebabnya, dalam gelanggang politik, figur perempuan kerap mendapat tempat istimewa di hati warga. Bukan semata soal program atau kebijakan, melainkan rasa—kedekatan yang tumbuh dari akar budaya yang panjang.

Karawang, dengan segala kesederhanaannya, menyimpan keyakinan yang dalam: bahwa kelembutan bisa memimpin, dan kasih bisa menjadi arah. Dan di sanalah perempuan menemukan ruangnya—bukan hanya untuk hadir, tetapi untuk menggenggam.

Leave a Comment