Membaca Dimensi Kepemimpinan Dedi Mulyadi

Saya melihat Dedi Mulyadi bukan sekadar sebagai seorang pemimpin daerah, tetapi sebagai sosok yang benar-benar berpikir. Ia memikirkan gagasan, mencari ide, dan tidak berhenti pada hal-hal yang bersifat administratif semata. Ia tahu, terlibat, dan memahami persoalan di lapangan. Ia mencari sumber daya, membuka jalan pembiayaan, serta mengajak masyarakat untuk ikut terlibat. Dari sana, ia menghidupkan narasi pembangunan yang terasa khas—bukan sekadar program yang kering, melainkan sesuatu yang lahir dari olah rasa dan olah pikir seorang pemimpin secara langsung.

Itulah yang, menurut saya, membuat Purwakarta berubah. Pembangunan di sana terasa memiliki jiwa, karena tidak hanya disusun di atas meja, tetapi juga dirasakan, dipikirkan, dan dialami oleh pemimpinnya sendiri. Ia tidak sekadar menerima laporan dari birokrat bawahannya, lalu menandatangani berkas. Ia hadir dalam proses berpikir itu sendiri. Gagasan-gagasannya tidak berhenti sebagai wacana, melainkan diwujudkan dalam kebijakan dan program yang nyata.

Bagi saya, ia bukan tipe pemimpin yang datang ke acara yang sudah disiapkan orang lain, lalu menggunting pita, menyampaikan sambutan formal, dan pergi sambil meninggalkan senyum untuk kamera. Bukan itu yang saya lihat. Ia adalah pemimpin yang mengenal daerah yang dipimpinnya—yang tahu potensi, memahami persoalan, dan mencari cara untuk mengembangkannya. Itu berarti ia benar-benar mempelajari dan memikirkan daerahnya.

Ia turun langsung, dekat dengan masyarakat, berbicara, mendengar, dan berinteraksi. Kedekatan itu bukan sekadar untuk kebutuhan dokumentasi atau foto bersama. Saya sendiri pernah merasakan bagaimana ia merespons secara langsung, bahkan melalui pesan pribadi. Hal kecil seperti itu memberi kesan bahwa hubungan antara pemimpin dan masyarakatnya tidak berjarak.

Ia tidak hanya menguasai wilayah secara administratif sebagai bupati, lalu membiarkan semuanya berjalan di tangan birokrasi. Ia tidak menunggu momen seremoni untuk muncul, menyampaikan harapan, lalu kembali menghilang. Ia hadir dalam keseharian pembangunan itu sendiri, dalam proses yang seringkali tidak terlihat, tetapi justru paling menentukan.

Begitulah gambaran subjektif saya tentang Dedi Mulyadi—seorang pemimpin yang bekerja sekaligus berpikir, yang membangun bukan hanya dengan anggaran, tetapi juga dengan gagasan. Mungkin, di lain waktu, saya akan mencoba menuliskan gambaran saya tentang pemimpin di daerah lain. Hanya saja, sampai sekarang, saya masih bertanya-tanya: apa yang bisa benar-benar diceritakan?

Leave a Comment