Sore tadi, saya membaca buku Inside the Mind of Peter Drucker karya Peter Drucker—sosok yang sering disebut sebagai Begawan Manajemen dunia. Seperti biasa, membaca Drucker selalu menghadirkan sudut pandang yang tak biasa, bahkan kadang membuat kita berhenti sejenak, mengernyitkan dahi, lalu berpikir lebih dalam.
Ada satu bagian yang cukup mengganggu pikiran saya. Dalam salah satu babnya, Drucker menulis bahwa perusahaan multinasional pertama di dunia adalah VOC. Itu bukan hal baru. Tetapi yang membuat saya berhenti cukup lama adalah kalimat berikut:
“Keuntungan terbesar VOC didapat dari usaha percetakan Al-Qur’annya di Amsterdam.”
Saya tidak langsung menelan kalimat itu begitu saja. Tapi saya juga tidak bisa mengabaikannya. Ia seperti sebuah serpihan kecil yang, ketika direnungkan, membuka lorong panjang tentang bagaimana sejarah bekerja—dan bagaimana kekuatan ekonomi, politik, dan budaya saling berkelindan dalam diam.
Jika kita mengikuti alur berpikir tersebut, maka ada ironi yang begitu tajam: sesuatu yang suci, yang menjadi pedoman hidup umat Islam, justru pernah menjadi salah satu sumber keuntungan ekonomi yang kemudian digunakan untuk memperkuat ekspansi kekuasaan kolonial.
Dan kita tahu, pada periode abad ke-16 hingga ke-17, ekspansi itu nyata adanya. Banyak wilayah Islam di berbagai belahan dunia mengalami tekanan, kemunduran, bahkan penjajahan. Di Nusantara, kita pun tidak luput dari pusaran sejarah itu.
Apakah benar keuntungan dari percetakan Al-Qur’an menjadi salah satu modal besar bagi ekspansi tersebut? Mungkin itu masih perlu dikaji lebih dalam. Tetapi sebagai sebuah perspektif, ia memberi kita ruang untuk berpikir: bahwa sejarah tidak selalu berjalan dalam garis lurus yang sederhana. Ia sering kali penuh paradoks.
Yang menarik bagi saya bukan hanya soal fakta atau data sejarahnya, tetapi tentang pola yang berulang. Setelah saya pikirkan, alur sejarah seolah tidak banyak berubah dari zaman ke zaman. Yang berubah mungkin hanya pelakonnya, juga teknik operasionalnya.
Dulu, mungkin bentuknya adalah perusahaan dagang seperti VOC. Hari ini, bisa jadi bentuknya korporasi global, lembaga keuangan, atau bahkan platform digital. Dulu, ekspansi dilakukan lewat kapal dan meriam. Hari ini, bisa melalui informasi, teknologi, dan penguasaan pasar.
Tetapi intinya tetap sama: ada kekuatan yang bekerja di balik layar, ada kepentingan yang disusun rapi, dan ada dampak yang dirasakan oleh masyarakat luas—sering kali tanpa mereka sadari sepenuhnya.
Sebagai orang yang hidup di tengah masyarakat yang memiliki sejarah panjang seperti di Karawang dan tanah Sunda pada umumnya, saya merasa penting untuk membaca hal-hal seperti ini dengan kepala dingin dan hati yang terbuka. Bukan untuk menumbuhkan kecurigaan berlebihan, tetapi untuk menumbuhkan kesadaran.
Bahwa pengetahuan, ekonomi, dan kekuasaan selalu memiliki hubungan yang erat. Bahwa sesuatu yang tampak sederhana bisa memiliki dampak yang besar. Dan bahwa kita, sebagai bagian dari masyarakat hari ini, perlu lebih peka dalam membaca arah zaman.
Mungkin pada akhirnya, yang paling penting bukan sekadar mengetahui apa yang terjadi di masa lalu, tetapi bagaimana kita memaknainya hari ini. Apakah kita hanya menjadi pembaca sejarah, atau kita belajar darinya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama?
Sore itu, buku Drucker belum selesai saya baca. Tapi satu hal yang pasti: satu kalimat kecil tadi telah membuka percakapan panjang di kepala saya—tentang sejarah, tentang kekuasaan, dan tentang bagaimana dunia ini bekerja, dulu dan sekarang.
