Asep R Sundapura Luncurkan Novel Satria Kabuyutan

Alhamdulillah, buku Satria Kabuyutan siap meluncur. Ini adalah sebuah ikhtiar kembali menjejak pada ingatan kebudayaan kita : Sunda Kuno.

Rampungnya buku Satria Kabuyutan menjadi penanda bahwa kerja kebudayaan bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan sebuah upaya sadar untuk menegakkan kembali martabat jati diri. “Sukma Sunda Ngawaruga Ngadegna Manusa Rahmatan Lil Alamin” hadir sebagai novel sejarah dan budaya yang menegaskan bahwa tanpa ilmu pengetahuan dan tanpa institusi Kabuyutan, Sunda akan terus direduksi hanya sebagai seni pertunjukan.

Padahal, lebih dari itu, Sunda adalah peradaban, adalah laku hidup, adalah jalan nilai yang berakar kuat pada kearifan dan ketuhanan.

Kesadaran inilah yang kemudian menjadi pijakan bagi hadirnya karya berikutnya, “Satria Kabuyutan Kitab Suci Jatisunda” karya penulis Karawang, Asep R. Sundapura.

Buku ini direncanakan untuk diluncurkan sebagai bagian dari kesinambungan gagasan yang tidak hanya menghidupkan kembali memori kolektif, tetapi juga mengajak masyarakat untuk menafsir ulang makna Kabuyutan sebagai pusat ilmu, pusat nilai, dan pusat pembentukan manusia yang utuh.

Kabuyutan bukan sekadar simbol masa lampau, melainkan fondasi yang dahulu melahirkan manusia Sunda yang berdaya, berilmu, dan berakhlak.

Dalam arus modernitas yang kerap menjauhkan manusia dari akar budayanya sendiri, kehadiran buku ini menjadi penting sebagai pengingat bahwa peradaban tidak dibangun dari permukaan, tetapi dari kedalaman nilai.

Sunda tidak bisa selamanya dipahami hanya melalui kesenian yang dipertontonkan, tanpa memahami struktur pengetahuan dan sistem nilai yang menopangnya. Di sinilah Kabuyutan menjadi kunci, sebagai institusi yang dulu menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Lebih jauh, karya ini juga menegaskan bahwa agama pada akhirnya adalah karunia terbesar Tuhan kepada manusia. Ia bukan sekadar identitas formal, tetapi cahaya yang membimbing peradaban agar tidak kehilangan arah.

Dalam konteks Jatisunda, agama dan budaya tidak saling meniadakan, melainkan saling menguatkan. Keduanya berpadu dalam membentuk manusia yang tidak hanya berakar pada tradisi, tetapi juga memiliki orientasi rahmatan lil alamin.

Rencana peluncuran “Satria Kabuyutan Kitab Suci Jatisunda” menjadi momentum penting, bukan hanya bagi dunia literasi, tetapi juga bagi gerakan kebudayaan Sunda secara lebih luas. Ini adalah ajakan terbuka untuk kembali membaca, memahami, dan menghidupkan nilai-nilai yang selama ini nyaris terpinggirkan. Sebuah langkah kecil namun bermakna dalam upaya panjang menegakkan kembali manusia Sunda yang utuh—manusia yang berilmu, berbudaya, dan berketuhanan.

Dengan semangat ini, buku tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga menjadi jalan pulang bagi kesadaran kolektif. Sebuah pengingat bahwa jati diri tidak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu untuk disadari kembali. Dan melalui karya ini, ikhtiar itu terus dilanjutkan, pelan namun pasti, menuju tegaknya manusia yang membawa rahmat bagi semesta.

Leave a Comment