Tragedi Si Cebol Sukasrana

Saya selalu merasa ada yang begitu tragis sekaligus hangat ketika mengingat kisah Sukasrana. Ia digambarkan sebagai wayang yang cebol dan jelek, jauh dari rupa ideal seorang ksatria, tetapi justru memiliki ilmu yang tinggi dan kesaktian yang luar biasa. Dalam dunia yang sering menilai dari tampilan luar, Sukasrana seperti diletakkan di pinggir—tidak dilihat, tidak diharapkan, bahkan kerap dianggap memalukan. Namun di balik itu semua, ia menyimpan satu hal yang sangat besar: kasih sayang.

Begitu sayangnya ia kepada kakaknya, Somantri, sehingga ke mana pun kakaknya pergi, ia selalu ingin ikut. Bukan karena ambisi, bukan karena ingin diakui, tetapi semata karena rasa dekat dan rasa memiliki. Saya membayangkan perasaan itu begitu tulus, seperti seorang adik kecil yang hanya ingin berada di sisi orang yang ia cintai, tanpa syarat apa pun.

Suatu hari, ketika Somantri ingin menjadi perwira kerajaan, ia mendapat tugas yang hampir mustahil. Tugas yang melampaui kemampuan manusia biasa. Namun seperti banyak kisah lain dalam pewayangan, justru yang “tidak terlihat” itulah yang menjadi penentu. Dengan kesaktiannya, Sukasrana membantu menyelesaikan tugas itu. Ia tidak menuntut balasan, tidak meminta pengakuan. Ia hanya ingin kakaknya berhasil.

Namun di titik itulah, kisah ini menjadi begitu menyayat. Ketika saatnya menerima penghargaan dari raja, Somantri justru merasa malu. Ia tidak ingin membawa Sukasrana, adiknya sendiri, karena rupa yang dianggap jelek dan menakutkan. Saya sering berhenti sejenak di bagian ini, karena di sanalah saya melihat cermin dari kehidupan kita hari ini—bagaimana rasa malu terhadap sesuatu yang “tidak sesuai standar” bisa mengalahkan rasa terima kasih, bahkan rasa cinta.

Sukasrana tetap ingin ikut. Bukan untuk pamer, bukan untuk mengganggu, tetapi karena ia hanya ingin tetap bersama kakaknya. Dan dalam ketegangan itulah, keputusan paling tragis terjadi. Somantri, yang merasa terdesak oleh rasa malu dan gengsi, akhirnya membunuh adiknya sendiri.

Yang membuat saya semakin terdiam adalah satu hal: Sukasrana sebenarnya bisa menghindari kematiannya. Dengan kesaktiannya yang tinggi, ia bukan sosok yang lemah. Ia punya pilihan untuk melawan, untuk bertahan hidup, bahkan mungkin untuk menang. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia memilih diam, memilih menerima, memilih mati.

Bagi saya, di situlah letak kemuliaan Sukasrana. Ia memahami perasaan kakaknya. Ia tahu bahwa kehadirannya dianggap beban. Dan alih-alih membalas dengan kemarahan, ia justru membalas dengan pengertian. Cintanya begitu besar, sampai-sampai ia rela menghapus dirinya sendiri demi ketenangan hati orang yang ia sayangi.

Kisah ini sering membuat saya bertanya pada diri sendiri: seberapa sering kita seperti Somantri? Malu pada sesuatu yang sebenarnya pernah menolong kita. Menyembunyikan, bahkan menyingkirkan, hal-hal yang tidak sesuai dengan citra yang ingin kita tampilkan. Dan di sisi lain, apakah kita mampu memiliki kelapangan hati seperti Sukasrana? Mencintai tanpa syarat, bahkan ketika cinta itu tidak dibalas dengan layak.

Dalam tradisi wayang, kisah seperti ini bukan sekadar hiburan, tetapi cermin batin manusia. Ia mengajarkan bahwa keindahan tidak selalu tampak di permukaan, dan bahwa kasih sayang yang paling tulus sering datang dari mereka yang tidak kita anggap penting. Sukasrana mungkin jelek dalam rupa, tetapi ia indah dalam jiwa—dan mungkin justru karena itu, kisahnya tetap hidup, mengendap, dan terasa begitu dekat dengan kita.

Saya merasa kisah ini bukan hanya tentang pengorbanan, tetapi juga tentang pengakuan—tentang betapa pentingnya melihat dan menerima seseorang secara utuh. Karena bisa jadi, dalam hidup kita, ada “Sukasrana-Sukasrana” lain yang diam-diam menjaga, membantu, dan menyayangi kita, tanpa pernah kita sadari sepenuhnya.

Dan ketika saya mengingat itu, rasanya hangat sekaligus perih. Hangat karena tahu bahwa kasih seperti itu pernah ada, dan perih karena tidak semua kasih mendapatkan tempat yang semestinya.

Leave a Comment