Bahasa Daerah Di Hadapan Tuhan

Ceritanya ada sebuah masjid. Puji-pujian sebelum sholatnya harus selalu menggunakan Bahasa Arab. Anak-anak tidak diperkenankan melantunkan puji-pujian kepada Tuhan dan Rasul-Nya dalam bahasa lokal seperti Bahasa Indonesia, Sunda, atau Jawa.

Bagi saya, itu terasa aneh. Bahasa lokal, termasuk Bahasa Sunda, memiliki kekayaan ungkapan yang luar biasa, termasuk dalam hal memuji dan mengagungkan-Nya. Bukankah Tuhan sendiri yang menciptakan keberagaman bahasa di dunia ini? Maka untuk memuji-Nya, rasanya tidak harus selalu terikat pada satu bahasa saja, kecuali dalam ibadah shalat yang memang telah ditetapkan keseragamannya.

Ada keyakinan yang tumbuh dalam diri saya bahwa tingkatan tertinggi dalam perjalanan menuju cinta kepada-Nya adalah bahasa sir—bahasa rasa, bahasa hati—yang bahkan melampaui kata dan aksara. Pada titik itu, bahasa menjadi tidak lagi penting, karena yang berbicara adalah kedalaman batin.

Bahasa Arab tentu memiliki kemuliaannya sendiri sebagai bahasa pengantar Kitab Suci. Saya pun kagum kepada mereka yang menguasainya, karena dengan itu mereka dapat menyelami makna wahyu dan menjelajahi luasnya samudra ilmu para ulama. Namun, saya tidak sependapat jika bahasa lokal dianggap tidak layak menjadi medium untuk memuji Allah dan Rasul-Nya.

Saya percaya, kehadiran Bahasa Arab di Nusantara bukan untuk menghapus bahasa-bahasa lokal, melainkan untuk berdampingan, saling menguatkan, dan memperkaya cara manusia berhubungan dengan Tuhannya. Dalam keberagaman bahasa itu, ada ruang luas bagi setiap jiwa untuk menemukan cara paling jujur dalam mengungkapkan cinta dan penghambaan.

Kadang, kesalehan yang tidak berlogika justru dapat menjadi sesuatu yang berbahaya. Ketika bentuk lebih diutamakan daripada makna, ketika bahasa lebih dijaga daripada rasa, di situlah kita berisiko kehilangan esensi dari ibadah itu sendiri—yakni kedekatan yang tulus antara manusia dan Tuhannya.

Leave a Comment