Peluncuran buku Getih Karawang: Sejarah Berdirinya Kabupaten Karawang Versi Terbaru dan Terlengkap karya Asep R. Sundapura berlangsung pada 2 September 2017 sebagai penanda terbitnya salah satu karya penting dalam khazanah historiografi lokal Karawang.
Buku ini hadir sebagai bagian akhir dari trilogi kesejarahan Karawang yang disusun dengan pendekatan komprehensif, menggabungkan data-data otentik, narasi babad yang kuat, serta eksplorasi lapangan yang mendalam. Kehadirannya menjadi rujukan baru bagi masyarakat yang ingin memahami secara utuh perjalanan panjang berdirinya Kabupaten Karawang.
Dalam Getih Karawang, pembaca diajak menelusuri perjalanan dramatis ratusan tahun silam ketika Karawang masih berupa rawa-rawa yang dikenal sebagai Karawaan. Buku ini tidak hanya menyajikan kisah berdirinya wilayah, tetapi juga membuka dinamika politik dan pemerintahan yang membentuk identitas Karawang hingga kini.
Secara sekilas, dituliskan pula dinamika pemerintahan tiap bupati di masanya, seperti Jayanegara yang dikenal gemar mengembangkan sektor perikanan di Karawang Utara, hingga hadirnya bupati perempuan pertama di Karawang, Raden Ayu Salira. Kisah lain juga menyoroti masa pemerintahan Sutadilaga pada tahun 1800-an yang mulai diwarnai dominasi pemodal swasta, serta era Suryadilaga yang gencar menggalakkan sektor perkebunan.
Lebih dari sekadar catatan sejarah, buku ini juga menjadi sebuah karya politik yang mengupas peran para founding father Karawang. Diceritakan kepiawaian tokoh-tokoh penting seperti Wirasaba yang lihai memainkan manuver politik, serta keberanian Panatayudha I yang berhasil memperluas kekuasaan Karawang hingga mencapai Nusa Kambangan.
Narasi juga mengangkat pentingnya loyalitas di tengah kondisi politik regional yang semrawut, sebagaimana ditunjukkan oleh para pendukung Singaperbangsa seperti Singaderpa dan Tambakbaya yang setia menjaga daulat kepemimpinan trah Kertabhumi. Sebaliknya, terdapat pula kisah pengkhianatan dari tokoh seperti Wirabaya dan Wangsananga yang memilih jalan berbeda dalam pusaran konflik kekuasaan.
Di atas semua itu, figur Suriadikara Bapa Kasumedangan digambarkan sebagai sosok cerdas yang mampu membaca arah angin politik dan menyesuaikan langkahnya dengan penuh perhitungan.
Dalam pernyataannya, Asep R. Sundapura menegaskan bahwa buku ini disusun sebagai upaya menghadirkan sejarah Karawang secara lebih utuh dan berimbang. Ia menyampaikan bahwa Getih Karawang bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat memahami akar identitas dan dinamika politik yang membentuk Karawang hari ini.
Menurutnya, penggabungan antara data historis yang dapat dipertanggungjawabkan dengan kekuatan narasi babad menjadi cara untuk menjaga ingatan kolektif sekaligus membuka ruang interpretasi yang lebih luas.
Dengan pendekatan tersebut, Getih Karawang tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah, tetapi juga sebuah perjalanan intelektual yang mengajak pembaca memahami kompleksitas masa lalu Karawang secara lebih mendalam. Buku ini sekaligus menegaskan posisi penting sejarah lokal dalam memperkaya perspektif kebangsaan, terutama melalui kisah-kisah kepemimpinan, strategi politik, serta nilai loyalitas yang diwariskan lintas generasi.
