Menjelang usianya yang ke-384 tahun, Kabupaten Karawang mendapat kejutan menarik dengan terbitnya sebuah buku karya putra daerah yang mengulas secara mendalam sejarah terbentuknya wilayah tersebut. Buku berjudul Getih Karawang ini ditulis oleh Asep R Sundapura, yang sebelumnya juga dikenal melalui karya-karyanya seperti Membongkar Sejarah Karawang: The First Kingdom of Javadwiva dan 54 Cerita Rakyat Karawang.
Dalam buku terbarunya ini, Asep R Sundapura menghadirkan kajian yang disebutnya sebagai yang paling lengkap dan mutakhir mengenai sejarah berdirinya Kabupaten Karawang. Ia menegaskan bahwa penulisan buku ini didasarkan pada data-data otentik, termasuk arsip-arsip Kompeni, yang kemudian diperkaya dengan narasi babad, cerita rakyat, serta hasil peninjauan langsung ke lapangan. Pendekatan tersebut membuat Getih Karawang mampu menyajikan fragmen sejarah secara lebih komprehensif dan detail dibandingkan karya-karya sebelumnya.
Proses penyusunan buku ini sendiri memakan waktu hingga tiga tahun. Tidak hanya berupaya melengkapi catatan sejarah yang telah dikenal masyarakat, buku ini juga berani mengangkat sisi-sisi gelap dan misteri yang selama ini masih menyelimuti awal berdirinya Karawang. Salah satu yang diangkat adalah soal lokasi kampung pertama Karawang yang disebut berada di Tambakbaya, yang kemudian dijadikan pusat pemerintahan oleh Bupati Singaperbangsa. Selain itu, buku ini juga mencoba meluruskan kekeliruan yang kerap terjadi di masyarakat, seperti penyamaan antara Waringinpitu dan Telukjambe yang sebenarnya merupakan dua wilayah berbeda.
Tak berhenti di situ, Getih Karawang juga menyingkap kisah-kisah yang selama ini belum sepenuhnya terang, seperti kematian Singaperbangsa serta konflik antara keluarga Panatayudha dengan Wirasaba atau Klan Adiarsa. Melalui pendekatan berbasis data dan analisis yang lebih jernih, penulis berupaya menghadirkan pemahaman sejarah yang lebih utuh bagi generasi masa kini, terutama di era informasi yang menuntut kejelasan dan akurasi.
Secara keseluruhan, buku ini menyajikan narasi yang runut mengenai perjalanan awal terbentuknya Kabupaten Karawang, lengkap dengan dinamika sosial-politik yang melatarbelakanginya. Tokoh-tokoh penting seperti Wiraperbangsa, Singaperbangsa, Panatayudha, Wirasaba, Rangga Gempol, hingga Singaderpa dihadirkan dalam bingkai cerita yang lebih hidup dan terhubung.
Dengan kedalaman riset dan keberanian mengungkap sisi-sisi yang jarang dibahas, Getih Karawang tampil bukan sekadar sebagai buku sejarah, melainkan juga sebagai upaya membuka kembali lembaran-lembaran yang selama ini tersembunyi. Buku ini layak menjadi referensi penting bagi masyarakat Karawang khususnya, serta pembaca yang ingin memahami lebih dalam tentang sejarah salah satu daerah lumbung padi di Indonesia.
