Menyusuri Jejak yang Tersesat: Polemik Makam Raden Anom Wirasuta di Bojong Manggu

makam bupati anom wirasuta karawang

 

Selama puluhan tahun, masyarakat Karawang beranggapan bahwa lokasi gundukan batu di Bojong Manggu, Pangkalan, merupakan makam Bupati Karawang kedua, Raden Anom Wirasuta, sebelum kemudian dipindah secara simbolis ke Manggung Jaya. Bahkan, hal tersebut telah masuk dalam database resmi Pemerintah Kabupaten Karawang.

Saya sendiri pertama kali mendengar mengenai makam Raden Anom pada tahun 2013, dan baru sempat melihatnya langsung beberapa hari lalu. Begitu tiba di lokasi, saya langsung kaget. Jujur, menurut saya lokasi tersebut sama sekali tidak mencirikan makam seorang bupati.

Di sana hanya terdapat gundukan batu. Rasanya tidak mungkin makam seorang bupati berada di bawah timbunan batu seperti itu. Lebih mustahil lagi ketika diketahui bahwa bebatuan tersebut merupakan batu alam yang sudah melekat dengan bumi, yang berarti tidak ada makam apa pun di bawahnya. Saat itu, saya berpikir: pasti ada yang aneh.

Dari situlah penelusuran dimulai. Berdasarkan kajian ekofak, artefak, data Belanda, dan cerita rakyat, semuanya menunjukkan fakta yang menguatkan bahwa lokasi di Bojong Manggu bukanlah makam Raden Anom Wirasuta. Asal-usul penetapan lokasi tersebut sebagai makam bupati kedua pada tahun 1991–1992 pun dinilai lemah secara empiris.

Padahal, pemerintahan Raden Anom, walaupun membawa konsep Panatayuda atau kesiapsiagaan untuk perang, secara keseluruhan merupakan pemerintahan yang stabil. Bahkan, terdapat kesepakatan kuat dengan VOC melalui konsesi politik—bahwa bupati Karawang harus keturunan Singaperbangsa—serta konsesi ekonomi—bahwa Karawang akan menyuplai bahan baku untuk VOC. Itulah sebabnya kepemimpinannya dapat bertahan hingga lebih dari 70 tahun.

Dengan situasi yang stabil seperti itu, makam keluarga Panatayuda tentu akan dibuat dengan baik dan megah. Dengan kata lain, teori bahwa lokasi tersebut hanyalah petilasan juga menjadi lemah.

Apalagi, cerita lokal menyebutkan bahwa lokasi itu pada awalnya merupakan kramat arca. Hal ini kemudian diperkuat oleh temuan arsip Belanda di Pangkalan, sebagaimana terlihat dalam dokumentasi foto yang ada.

Dari sudut pandang psikologi massa, sebagai keluarga menak atau darah biru, Raden Anom dan pengikutnya tidak mungkin membuat makam secara alakadarnya. Dari tinjauan keagamaan pun menunjukkan bahwa sebagai bekas santri di Pesantren Bogor, Raden Anom sudah tidak lagi terwarnai oleh tradisi kebuhunan seperti para leluhurnya yang cukup dikubur dengan penanda batu.

Sebagai seorang muslim yang taat, Raden Anom akan dikureubkeun secara islami. Corak arsitektur makamnya pun kemungkinan besar akan terpengaruh gaya Melayu atau Imogiri Mataram, mengingat pada masa itu dominasi budaya Mataram sangat kuat. Dengan demikian, kuburannya pastilah berupa makam pada umumnya dengan corak Islam yang kuat, bukan corak batu ala Jati Sunda seperti yang terdapat di lokasi tersebut.

Selama ini, Pemerintah Kabupaten Karawang telah mengeluarkan banyak dana APBD untuk melakukan penelitian sejarah, termasuk pembangunan infrastruktur penunjangnya. Meskipun pelaksananya adalah para ahli sejarah yang kapabel di bidangnya, hendaknya pemerintah juga menyadari peribahasa para sepuh Karawang: bahwa yang tahu leuwi Karawang adalah ikan-ikan di Karawang, meskipun hanya ikan sapu-sapu atau jungjulung.

Sehingga, jangan sampai ada kebijakan pembangunan yang kurang tepat hanya karena kekeliruan dalam memahami sejarah, seperti misalnya pembangunan di Manggung Jaya dan Pakuncen Sukaharja.

Similar Posts