Dalam khazanah cerita rakyat Karawang, dikenal kisah tentang Kurung Barang yang diyakini sebagai pelabuhan kuno pada masa Kerajaan Tarumanagara. Tempat ini disebut sebagai titik temu tiga aliran sungai di pesisir utara Karawang yang memiliki peran penting dalam aktivitas transportasi dan keagamaan pada masanya.
Sungai pertama adalah Kali Candi, yang mengalir hingga kawasan percandian Situs Batujaya. Nama Kali Candi sendiri telah dikenal sejak tahun 1901, jauh sebelum kompleks candi tersebut ditemukan, seakan menjadi petunjuk awal keberadaan peradaban kuno di wilayah itu. Sungai kedua dikenal sebagai Kali Galian atau Kali Merah, yang menurut cerita menjadi jalur perahu pengangkut tanah sebagai bahan pembuatan bata candi.
Sumber batu kapurnya dikaitkan dengan wilayah Gunung Sanggabuana dan Gunung Kapur di bagian selatan, yang terhubung melalui aliran Sungai Citarum serta Sungai Cibeet. Sementara itu, Kali Alam menjadi jalur perputaran perahu dari arah percandian, dikenal sebagai aliran yang tetap lestari sejak masa lampau.
Dari kawasan tersebut, aliran air berlanjut menuju Sungai Sarasah yang dalam Naskah Wangsakerta disebut pernah dinormalisasi oleh Raja Purnawarman melalui patihnya. Jalur ini kemudian terhubung ke Rawamanuk, wilayah yang juga tercatat dalam naskah tersebut. Ke arah utara, alirannya bersambung dengan daerah Aci Maya yang ditandai oleh batu timbul dan peninggalan arkeologi budaya Budaya Buni.
Rangkaian wilayah ini ditutup dengan Karang Sidulang yang menurut Naskah Ratu Pakuan pernah menjadi tempat pengiriman putri-putri kerajaan ke Galuh Kawali.
Kisah ini memperlihatkan bahwa wilayah pesisir Karawang bukan sekadar bentang alam, melainkan simpul peradaban yang menghubungkan aktivitas ekonomi, keagamaan, dan politik sejak masa lampau. Cerita rakyat tersebut menjadi jejak ingatan kolektif yang memperkaya pemahaman tentang sejarah panjang kawasan ini.
